Perguruan Tinggi Sebagai Media Perdamaian
Oleh: Muhyiddin el-Febiens
Perdamaian adalah suatu cita-cita manusia, bangsa, dan
dunia. Namun yang terjadi pada saat ini adalah justru banjir konflik. Kita
lihat saja sekarang orang-orang yang
menduduki pemerintahan yang notabene adalah lulusan Perguruan Tinggi itu sering
berkonflik. Bahkan, yang masih duduk di
perguruan tingg pun sudah mulai ikut-ikutan menjadi aktor dari konflik
tersebut.
De Facto, Timbul lah
kemudian asumsi dari Masyarakat. Bagaimana akan tercipta perdamaian jika orang
yang disebut-sebut sebagai kaum intelektual saja sudah sering konflik seperti
itu. Jika Generasi Biru “Blue Generation” kita menjadikan konflik
sebagai kebiasaan, maka hancurlah sebuah Negara. Karena generasi inilah yang
nantinya akan membangun sebuah Negara.
Indonesia
adalah salah satu negeri yang sarat dengan konflik kekerasan. "violent conflict". konflik dan
kekerasan adalah dua hal yang berbeda. Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih
yang memiliki tujuan yang
tidak sejalan sedangkan kekerasan adalah
perilaku yang melibatkan kekuatan
fisik, bertujuan untuk melukai, merusak,
atau membunuh sesuatu atau seseorang.
Konteks Indonesia
Akar konflik
di Indonesia berawal dari kekerasan yang muncul ketika zaman kolonialisme. Pada
masa itu, kekerasan digunakan oleh penjajah sebagai alat untuk menaklukkan
rakyat Indonesia. Dari berjalannya waktu kemudian dijadikan sebagai sebuah
politik yakni politik kekerasan yang telah kita lihat faktanya pada zaman orde
Baru. Dari situlah benih konflik kemudian bermunculan.
Konflik di
Indonesia bisa terjadi dimanapun. tapi, yang paling parah adalah justru konflik
dari kaum intelektual itu sendiri. Dan mereka tidak layak disebut sebagai kaum
intelektual jika tidak bisa memanajemen
konflik. Akan tetapi, yang terjadi pada saat sekrang ini adalah konflik
itu tidak bisa terhindari karena spirit egoisme sentris masih melekat di
jiwa-jiwa mereka.
Konflik
antar perguruan tinggi yang terjadi di berbagai belahan nusantara mudah2an bisa
menjadi Evaluasi. Nah, dalam menanggapi kasus Konflik rakyat Indonesia
mempunyai pandangan yang berbeda-beda, baik di tingkat perguruan tinggi mau pun
di berbagai kelas masyarakat itu sendiri. Perguruan tinggi diharapkan menjadi
tempat yang penuh dengan ilmu pengetahuan yang
bisa menyikapi hal-hal yang berbau konflik seperti diatas secara bijak.
Oleh karena itu, perdamaian harus
menjadi cita-cita bagi para blue gerenaration sejak dini.
Perguruan
tinggi harus bisa menjadikan Mahasiswanya sebagai Agen of Peace ” Agen
Perdamaian” agar bisa meminimalisir konflik-konflik yang terjadi di bangsa ini.
Bukan malah menjadi pelaku konflik itu sendiri.
Usaha Menkrontruk paradigma yang seperti inilah harus kita ciptakan demi bangsa dan negara
kita karena sebuah paradigma dibangun untuk menciptakan sebuah perubahan.
Perdamaian: Mimpi PT
Untuk
menciptakan sebuah perdamaian memang butuh proses yang panjang, karena konflik
ini seakan sudah menjadi kebiasaan bagi rakyat Indonesia. Jika sudah biasa maka
sulitlah untuk merubah kebiasaan itu. Atas dasar rasa nasionalis yang kita
bangun untuk negeri ini, maka perguruan tinggi sebagai tempat untuk menimbah
ilmu harus juga menyuarakan Perdamian.
Perguruan Tinggi yang terlibat dalam konflik
kekerasan seharusnya menyadari bahwa yang berada di dalamnya adalah Agent of
Peace alias Mahasiswa. Oleh sebab itu, Perdamaian harus menjadi sebuah
mimpi bagi Perguruan tinggi agar mindset mereka bisa menghindari konflik. Dalam
hal ini, Perguruan Tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam
mempengaruhi perubahan-perubahan suatu masyarakat baik perubahan yang negative
maupun yang positive. Perguruan tinggi yang “membiasakan” Konflik akan merubah
masyarakat dengan perubahan yang negative dan perguruan tinggi yang membiasakan
untuk konsolidasikan wacana perdamaian, maka akan merubah masyarakatnya menjadi
perubahan yang positive.

Komentar