MAJETHI {kedamaian yang begitu damai }
Hanya sebatas Utopia, tak mungkin mencapai sebuah harapan yang dinanti-nanti salama beribu-ribu tahun. bertahun-bertahun yang lalu aku menemukan majheti, dari sanalah aku berasal. dari pulau yang disinggahi aji saka yang tampan dan sakti mandraguna. aku mungkin adalah keturunannya. begitulah yang aku harapkan. darahku adalah darah Majethi. semua orang tahu itu.
Majethi.......dari manakah engkau berasal? dari dasar lautkah? atau kah berasal dari langit? engkau berada dalam lingkaran air laut biru, laut yang masih tersimpan kekayaan yang begitu indah. pohon rindangmu masih melindungiku dari sengatan matahari yang semakin hari semakin dekat dengan kepalaku. akan tetapi, aku beruntung karena ada engkau yang selalu melindungiku.
tahu kah engkau? majeti itu nama pulau, pulau yang seperti titik nun dari pulau jawa. terpencil. tapi, saya sangat suka sekali hidup disana.
Disanalah aku menemukan kedamaian, kedamaian yang begitu damai. dia mengajariku tentang hakikat manusia yang sebenarnya. keindangan pemandangan alamnya menyimpan beribu kenangan. suatu saat aku akan kembali kesana. untuk mengabdi pada dirinya. pastinya begitu jika Tuhan belum memanggilku.
***
Jika kalian suruh memilih, anatara hidup di kota dengan hidup di kepulauan. sungguh, aku akan jauh memilih hidup di kepulauan. Meski jauh dari peradaban, tapi disana sangat menjunjung tinggi rasa persaudaraan. kebutuhan-kebutuhan pokok tercukupi karena ladang sawah yang selalu kami rawati. di lumbung kita terus menabung. sehingga tak ada lagi yang namanya kepalaparan.
maka, jika kalian menawarkan modernisme, sungguh aku akan menolaknya. karena aku takut, aku takut majeti menjadi bangkai. mati di tengah laut karena tak ada lagi yang namanya moralitas.
Komentar