KEMBALI PADA TUHAN
Muhyiddin
el-Febiens*
Yang bisa bertahan hidup dialah yang akan menjadi
penguasa. Begitulah hukum
rimba yang berlaku. Kita hanya bias
mensyukuri betapa nikmatnya hidup walau terkadang kita juga
harus hati-hati dengan kematian. Saat ini aku berada dalam sebuah lingkungan
yang dekat dengan kematian dan tidak
adanya sebuah kedamaian. Kekerasan selalu menyapaku di setiap hari. Namun
hati sebenarnya berbicara lain. Hati ini tak cocok dengan lingkungan seperti
itu. Lalu dari manakah aku berasal? Apakah itu juga menjadi penting bagi
kalian? Justru mulai dari pertanyaan seperti itulah pertengkaran-pertengkaran
itu terjadi.
Sebagai petarung sejati, tak terbersit sama sekali
untuk mengatakan dari mana aku ini berasal
dan siapakah aku? menurutmu masih perlukah jika aku
mengatakan bahwa aku ini berasal dari papua atau dari makasar, bahkan Madura dan
sebagainya? Bukankah itu berarti hanya mengandalkan kekuatan etnis yang sangat
menakutkan dan tangguh? TIDAK….ini bukanlah langkah seorang kesatria. Bahkan yang demikian itu terlihat
sebagai langkah yang sombong. Tapi sebagai lelaki seharusnya. “One by
one”….begitulah kata yang selalu terlontar ketika saat akan bertarung.
Tiba-tiba handphoneku bergetar dalam saku celana,
itu pertanda bahwa ada temen-temenku yang terlibat dalam sebuah pertarungan ingin mengajakku untuk ikut
mempertaruhkan nyawa dalam medan yang selalu terhias oleh ganasnya sayatan
pedang, clurit, belati, yang haus akan darah. Tapi aku tak ingin lagi ikut
dalam pertempuran-pertempuran itu sehingga aku harus mengatakan beberapa alasan
pada temen-temenku kali ini.
Kemudian setelah
kejadian-kejadian seperti itu, kalian akan mendengar bahwa ada beberapa mayat
ditemukan dalam kolong jembatan yang mati mengenaskan. Dan kalian hanya bisa
pasrah. Siapa yang telah membunuhnya? Tidak akan ada yang tahu. Jangankan
kalian, aku sendiri tak pernah tahu siapa yang telah membunuh mereka. Apa yang
diperebutkan mereka hingga harus berjumpa dengan kematian? Betapa berartinya sebuah kekuasaan bagi mereka. Apa untungnya
jika harus membunuh saudara kita sendiri sebagai manusia yang sama-sama makhluk
Tuhan?
Mengenai diriku, sekarang bahkan kau takkan mengira
bahwa aku ini mantan petarung . Aku sendiri bahkan merasa pangling dengan
penampilanku saat ini. Yang dulunya bertampang seram, berambut panjang. Dan
tato srigala di lengan kiriku yang mengidentitaskan bahwa aku ini adalah
srigala yang beraura kekerasan.
Namun kini semuanya telah berubah
dan zaman pun telah berubah. Kini tibalah pada zaman dimana seharusnya kita
menghargai sebuah perbedaan. Zaman yang kita anggap sebagai zaman yang harus
saling menghargai sesama manusia. Kata kaum humanis, Memanusiakan manusia.
Dengan rambut yang tersisir rapi, kini aku benar-benar sadar bahwa
aku tak ingin kembali ke dunia kelam itu.
Dunia yang serba tidak jelas dalam menjalani hidup. Saatnya menatap masa depan
yang jelas. Demi persahabatan, cinta, dan cita-cita kita berlomba-berlomba
untuk menjadi yang terbaik dimata Tuhan. Dan dengan cinta,
semua ini karena wanita
yang saat ini berada tepat disampingku. Senyumnya yang selalu menggetarkan jiwa
membuatku tak mampu untuk berucap satu kata apapun. Padahal kita berdua sudah
cukup lama duduk berduaan di taman itu.
Dengan rasa yang selalu kusimpan ini aku sudah tidak kuat lagi. Awalnya kukira
ini adalah sesak nafas. Karena semakin berjalannya hari nafasku sering tak
beraturan jika berada disampingmu.
Baiklah….memang harus kuakui. Sebagai mantan
perarung. Aku memang tak punya pengalaman
untuk masalah batin seperti ini. Lagi pula, memang, sejak dulu
aku kurang pandai dalam masalah cinta, inilah yang pertama kalinya. Baru kali ini aku merasa kulitku seakan tersayat-sayat ketika
melihatnya sedang bersama lelaki lain. Walaupun dia adalah seorang sahabatnya.
Tapi, aku semakin tenggelam dalam irama cinta yang mengalun indah. Walau untuk
sementara ini hanya mengalun dalam hatiku seorang. Aku ingin berirama cinta
dengan hatinya.
Aku lebih menonjolkan keahlianku bertarung dari pada
berpikir mengenai cinta yang dulu selalu kuanggap sebagai masalah yang cengeng.
tapi saat ini bahkan aku tak tahu apa yang telah kurasakan. Gundah, gelisah,
dan yang terbayang hanyalah seorang
bidadari itu. Sebenarnya
jika kalian ingin tahu, wajah wanita yang sanggup menaklukkan sang Srigala ini
tidak begitu cantik. Tapi sungguh teramat manis, seperti gula. Akulah semutnya.
Dengan goncangan batin yang seperti itu aku tetap
tidak sanggup untuk mengungkapkannya.
Namun sebenarnya meski kita tak saling mengungkapkan rasa, kita sudah
tahu bahwa kita saling mencintai. Karena itulah aku tak perlu takut lagi untuk
mengatakannya.sebagai mantan petarung.
malulah jika tidak berani dalam hal ini. Lalu, pelan-pelan kupegang tangannya
dan berbisik “aku mencintaimu”.
lalu gadisku tersipu malu dan mengangguk pelan-pelan. Tahukah kalian? Dia anggun
sekali dengan baju warna ungu malam ini.
***
Sebagai
lelaki, sudah sepatutnya melindungi wanitanya dengan segenap rasa cinta yang
sebenarnya. Tidaklah sebagaimana yang dilakukan para remaja saat ini, mereka
banyak terlanjur dalam melakukan making
love sebelu menikah. Bukankah jika aku memaksa seorang gadis untuk
melakukan perbuatan mesum seperti itu akan merusak masa depannya ? berarti jika
aku melakukan itu, aku tidak menyayanginya. Dan malulah yang harus ditanggung
jika itu benar-benar terjadi. Jadi, Harus berpikir dua kali untuk melakukan hal
semacam itu. dari sejelek-jeleknya perbuatanku selama ini, syukurlah hal yang
demikian tidak pernah kulakukan. Aku kasihan pada gadis-gadis yang telah
kehilangan keprawanannya itu. Bagi lelakinya mungkin berpikir tidaklah berbekas
jika melakukannya, namun si ceweklah yang akan meninggalkan bekas. Sehingga
tidak ada lagi lelaki yang akan menikahinya.
Hidup
memang penuh rintangan. Dan aku harus melalui rintangan-rintangan itu untuk
mendapatkan apa yang aku inginkan. Setelah beberapa bulan kita menyatukan hati
dalam bingakai asmara. Beredarlah kabar tak sedap tentang kekasih yang sedang
jauh disana. Kabarnya Rifa, nama gadisku telah diculik oleh segerombolan anak
muda yang berpenampilan macam preman. Ada beberapa warga yang melihat kejadian
itu. Namun, tak ada yang berani untuk menolong Rifa, dikarenakan segerombolan
anak muda tersebut membawa beberapa senjata tajam. Saat mendengar kabar itu,
aku bingung. Apa yang harus kulakukan . dan bertanya-tanya siapakah yang telah
berani menculik gadis pujaanku itu.
Tapi, tak lama kemudian berderinglah handphoneku.
“Halo...?siapa? aku mengangkat telpon itu.
“halo...aku Bajing. Masihkah kau ingat padaku
kawan...hahaha? jawab orang itu sambil ketawa.
Ternyata
memang benar dugaanku bahwa yang telah melakukan semua ini adalah musuh lamaku.
Tanpa pikir-pikir lagi kemudian aku berangkat jauh-jauh dari jogja menuju
Surabaya untuk mendatangi markas si bajing. Saat ini mataku telah gelap dan
tidak akan lagi memandang bulu siapa yang akan saya hadapi saat ini.
Kemarahanku tidak dapat di tolak lagi. Bisa-bisanya mereka berbuat pengecut
seperti itu. Jhancuk..!!!
Saat ini aku berada di tengah-tengah anak buah Bajing. Setiap saat bahkan
mereka bisa saja menusukkan bebarapa belati pada perutku, tapi aku tetap tak
peduli tentang hal itu. kematian itu sendiri bagiku bukan apa-apa lagi karena
kematian yang paling menyakitkan dalam hidup ini adalah kematian orang yang
teramat kucintai. Keadaan itulah yang tak pernah kubiarkan terjadi.
Aku
tahu, bahwa aku pernah melakukan kesalahan beberapa tahun yang lalu. Aku secara
tidak sengaja telah membunuh adik kandung si bajing saat bertarung, namanya
Joni. Tapi, pembunuhan itu kulakukan karena sangat terpaksa. Saat itu, dia
hampir saja membunuhku dengan clurit. Tapi beruntunglah aku bisa menangkisnya
kala itu. Dan clurit itu berbalik menusuk perut Joni. Jadilah bomerang.
Mulai
saat itulah, bajing manaruh dendam padaku. Namun, akankah dendam ini terus
berlanjut sampai pada keluarga-keluarga kita berdua selanjutnya? Berlanjut pada
anak-anakku, kemudian sampai pada cucuku sehingga permusuhan ini tak ada akhir.
Hal semacam itu, bahkan telah membudaya di daerahku. Bagi seseorang yang
mempunyai musuh. Dan salah satunya mengalami kekalahan dan mati. Maka darahku
atau pun darah si bajing harus diminum oleh anak kami berdua suatu saat nanti.
Seperti itulah budaya yang sedang berjalan. Tapi, saat ini aku sadar bahwa
budaya itu tidaklah baik. Dan aku sudah sering diajarkan oleh khotbah-khotbah
keagamaan bahwa dendam itu tidaklah baik. Oleh karena itu, saat ini aku ingin
menutup budaya macam itu.
“Hai
bajing, sebelum kita bertarung aku punya suatu tawaran buatmu” teriakku
ditengah-tengah anak buah bajing.
Kemudian
bajing berjalan mendekatiku dan memasang muka sombongnya yang penuh dengan
kebencian “ hah...? kau kira ini pasar bia tawar menawar hah?” teriaknya
lantang.
“tapi
ini demi kebaikan anak cucu kita kelak cuk, agar mereka tidak ikut menyimpan
dendam sepertimu. Dan setelah ini tidak ada bunuh membunuh lagi” teriakku
sedikit terpancing.
Bajing
terlihat sedang berpikir, dan aku tak sabar menunggu persetujuannya.
“baiklah kalau begitu, kita akan buat perjanjian” kata
bajing tiba-tiba. Tak kusangka juga bahwa dia akan menerima tawaran itu.
Lalu
kuucapkan perjanjian itu “baiklah, siapa yang kalah dalam pertarungan ini,
tidak akan lagi menyimpan rasa dendam. Dan tidak ada lagi yang harus meminum
darah. anak buahmu semua ini telah menjadi saksinya”
“Baiklah..!!
aku setuju” katanya.
Sekarang,
saatnyalah menentukan siapa yang paling tangguh antara srigala hitam versus
harimau putih. Perlu diingat juga oleh semuanya, bahwa pertarungan ini bukanlah
pertarungan etnis ataupun kelompok-kelompok. Tapi, pertarungan antara kita
berdua secara jantan. Aku bertarung untuk cintaku, dan bajing bertarung untuk
dendamnya padaku.
Saatnya
memasang kuda-kuda karen bajing sudah sejak tadi memesang kuda-kudanya. Tanpa
bisa dihalangi lagi, pertarungan itupun benar-benar terjadi. Jika kalian
bertarung, kecepatan tentulah menjadi kuncinya. Kecepatan menangkis pukulan,
kecepata memukul, menendang, dan mengelak. Seperti itulah yang tengah
diperagakan oleh kita berdua.
Brak...!!!
Lalu aku
terlempar jauh terkena tendangan bajing, kini bajing makin bengis. Dia bahkan
mengeluarkan sebuah belati dari jaket coklatnya. Ternyata dia benar-benar
sangat bernafsu ingin menghabisiku. Tapi, justru saat inilah kesempatanku untuk
memangkan pertarungan ini. Karena orang yang sedang dibalut oleh emosi justru
lebih gampang ditaklukkan. Lalu, kuatur nafasku dan mencoba untuk lebih rileks
dalam membendung serangannya.
Nafas
bajing sudah mulai terkuras habis karena diperbudak oleh nafsu, saatnya aku
beraksi. Dengan dua kali gerakan lalu kupukul tangannya sehingga belati itu
terlempar ke tanah. Kupukul mukanya, kuhantam perutnya dengan kaki sehingga
bajingpun terkapar lemas dan jatuh.
“baiklah,
pertarungan ini sudah berakhir bajing. Aku tidak akan membunuhmu. Tapi, ingat
janjimu tadi” lalu kumelangkah pergi menuju Rifa yang masih terikat tali
dikursi. Kubuka tali-tali itu. Kemudian dia langsung memelukku. Kemudian dia
berbisik, “aku sangat mencintaimu...”.lalu,
gadisku bisa kembali kubawa pulang.
Tentang
hidup, bersukurlah bagi orang-orang yang sadar akan hidup. Bahwa hidup di dunia
ini bukanlah kehidupan yang kekal, hidup ini adalah sesuatu yang sementara.
Jadi, aku pun harus kembali ke jalan Tuhan menata hidup yang lebih baik lagi
untuk menuju Tuhan sang penguasa alam. Kini Aku dan Rifa ingin hidup
berdampingan mengabdi pada Tuhan dengan segala apa yang kita punya. Inilah
semua kulakukan untuk menebus dosa-dosaku yang dulu. Tapi, apakah dosaku-dosaku
dulu itu harus ditebus dengan perbuatan macam apa Tuhan?
*Penulis adalah laskar filosof.

Komentar