Pasir Putih

indahnya alam menyadarkan aku tentang aku
berjalan di atas pasir putih menangis
meratapi kesepian yang begitu sendu di tengah laut biru

kesendiriannya akan hilang dengan datangnya seorang manusia
yang akan menemani hidupnya
mempertemukan dua kesepian yang tercipta karena sebuah perbedaan.

tapi, putih yang menjadi kulitnya
tak menjadikannya terlantar di dunia ini
sungguh beruntunglah wahai dirimu kawan

kau sungguh beruntung dari aku
yang selalu terancam untuk diasingkan dari duniaku
karena sebuah perbedaan tentang diriku yang diberikan-Nya

siapa yang salah tentang semua ini?
semuanya tak ada yang merasa disalahkan
hanya aku yang salah tentang ketidak sempurnaanku

inilah kehidupan yang penuh dengan tanda tanya
dan aku mau tidak mau harus melaluinya
lalu menjalaini kehidupan yang sesungguhnya Abadi

aku iri padamu kawan
iri pada hamparan pasir putih
yang terasingkan namun tak terabaikan


Muhyiddin el-Febiens

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAJETHI {kedamaian yang begitu damai }

Cogito Ergo Sum

CATATAN LELAKI BERAMBUT PANJANG