DAUNISME dari Bawean
DAUNISME adalah satu aliran falsafah yang berasal dari Bawean pada abad 21 ini. Sebagai salah satu ciri utamanya, aliran Daunisme menekankan bahawa kesuksesan, Kebahagiaan, dan Kesejahteraan Manusia terletak bagaiman manusia itu berhubungan dengan Tuhannya, Manusia, dan Alam (Hablum MinAllah, Hablum Minannas, Hablum Minal Alam) atau disebut sebagai "THREE RELATIONS". kata Daunisme diambil dari nama sebuah Desa di Bawean yakni Desa Daun. jadi, pemikiran itu ada, kadang terpengaruh oleh lingkungannya.
Faham ini masuk ke Indonesia mulai Abad 21, yang di proklamatorkan oleh seorang Laskar Filosof (Muhyiddin El-Febiens) dari Desa Daun, Bawean. Persamaan nama (KONOHAGAKURE (Desa Daun), desa yang ada di dalam cerita Naruto yang disebut sebagai ibu Kota Negara Api). Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Desa Daun khususnya dan Bawean Island umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. ide yang sebenarnya sudah menjadi tradisi ini tanpa disadari sudah banyak yang meminati akan tetapi selama ini belum terkonsep menjadi bahan Bacaan yang Petut dibaca oleh semua Manusia.
FILOSOFI DARI DAUN
Daun dimulai dari tunas daun, lalu lama kelamaan hidup menjadi daun yang muda, berkembang kembali menjadi daun yang tua, dan berkahir menjadi daun yang gugur. Itu siklus yang mau tidak mau harus di dilalui dari proses hidup ada daun.
Daun muda letaknya ada di posisi lebih atas, dan daun yang lebih tua menyadari akan posisi daun yang lebih muda. Daun tua berpikir seandanya daun muda itu tidak saya beri kesempatan maka saat semua daun tua manjadi gugur daun muda itu tidak akan siap mengawali hidup sebagai pemimpin bagi tunas daun lainya. Dia tidak siap menghidupi pohon dimana dia hidup.
Bersyukurlah jika kita berada dalam pohon dimana daun daun tua mengayomi dan membimbing daun-daun muda pada jalan dan pedoman yang benar untuk kejayaan pohon dan kelanggengan kehidupan pohon serta regenerasi pohon berikutnya.
Jangan halangi pohon muda tuk menunjukan kemampuanya, beri dia kesempatan tuk belajar apa arti kehidupan sesungguhnya
Faham ini masuk ke Indonesia mulai Abad 21, yang di proklamatorkan oleh seorang Laskar Filosof (Muhyiddin El-Febiens) dari Desa Daun, Bawean. Persamaan nama (KONOHAGAKURE (Desa Daun), desa yang ada di dalam cerita Naruto yang disebut sebagai ibu Kota Negara Api). Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Desa Daun khususnya dan Bawean Island umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. ide yang sebenarnya sudah menjadi tradisi ini tanpa disadari sudah banyak yang meminati akan tetapi selama ini belum terkonsep menjadi bahan Bacaan yang Petut dibaca oleh semua Manusia.
FILOSOFI DARI DAUN
Daun dimulai dari tunas daun, lalu lama kelamaan hidup menjadi daun yang muda, berkembang kembali menjadi daun yang tua, dan berkahir menjadi daun yang gugur. Itu siklus yang mau tidak mau harus di dilalui dari proses hidup ada daun.
Daun muda letaknya ada di posisi lebih atas, dan daun yang lebih tua menyadari akan posisi daun yang lebih muda. Daun tua berpikir seandanya daun muda itu tidak saya beri kesempatan maka saat semua daun tua manjadi gugur daun muda itu tidak akan siap mengawali hidup sebagai pemimpin bagi tunas daun lainya. Dia tidak siap menghidupi pohon dimana dia hidup.
Bersyukurlah jika kita berada dalam pohon dimana daun daun tua mengayomi dan membimbing daun-daun muda pada jalan dan pedoman yang benar untuk kejayaan pohon dan kelanggengan kehidupan pohon serta regenerasi pohon berikutnya.
Jangan halangi pohon muda tuk menunjukan kemampuanya, beri dia kesempatan tuk belajar apa arti kehidupan sesungguhnya
Komentar