Kajian Terhadap Pemikiran Paul Feyerabend
Oleh: Muhyiddin eL-Febiens
Sebelum mulai menuliskan apa-apa yang dapat dipahami, izinkan
saya menjelaskan kepada Anda bagimanakah pemikiran Paul Feyerabend ini muncul.
Pada waktu itu, feyerabend mengalami kekurangan dana. Jadi
dia menerima undangan untuk berkontribusi pada sebuah buku berurusan dengan
hubungan antara sains dan agama. Untuk membuat buku ini menjual dia pikir harus
membuat kontribusi yang provokatif. dan satu pernyataan paling provokatif yang
dapat membuat tentang hubungan antara sains dan agama adalah ilmu itu adalah agama.
Setelah membuat pernyataan inti dari artikelnya, dia menemukan bahwa banyak
alasan, banyak alasan yang sangat baik. dia menyebutkan alasan, selesai
artikelnya, dan kemudian mendapat bayaran. Itu tahap pertama.
Berikutnya dia diundang ke sebuah Konferensi Pertahanan
Kebudayaan. dia menerima undangan tersebut karena dibayar untuk penerbangan ke
Eropa. dia juga harus mengakui bahwa dia agak penasaran. Ketika dia tiba di
Nice (Prancis), dia tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Disana dia
menjelaskan bagaimana orang bisa mempertahankan budaya dari ilmu pengetahuan.
Semua alasan yang dikumpulkan dalam artikelnya akan berlaku di sini juga dan
tidak perlu untuk menciptakan hal-hal baru. Dia memberi ceramahnya, tapi dia
dihadiahi dengan protes tentang idenya yang dianggap " berbahaya dan
sakit”. Itu tahap nomor dua.
Kita perlu sadari bahwa selanjutnya berbeda dengan
penontonnya di Nice. Satu, bahwa disana tampak jauh lebih muda. Penonton di
Nice penuh profesor, pengusaha, dan eksekutif televisi, dan usia rata-rata
sekitar 58 1 / 2. Maka dia cukup yakin bahwa sebagian besar dari Anda jauh di
sebelah kiri beberapa orang di Nice. soal fakta, dia mengatakan bahwa di tempat
itu adalah seorang pembaca kiri, sementara penonton di Nice waktu itu adalah
penonton kanan. Namun, meski terdapat
perbedaan-perbedaan, penonton di nice dan tempat itu memiliki beberapa
kesamaan. Paul berasumsi keduanya sama-sama menghargai ilmu dan
pengetahuan. Ilmu, tentu saja harus direformasi dan harus dibuat kurang
otoriter. Tapi begitu reformasi dilakukan, hal itu adalah sumber berharga
pengetahuan yang tidak boleh terkontaminasi oleh ideologi dari jenis yang
berbeda. Kedua, mereka berdua adalah orang-orang serius. Pengetahuan adalah
masalah serius bagi aliran kanan serta Kiri, dan itu harus dikejar dalam
semangat yang serius, kesembronoan dihilangkan.
dedikasi dan aplikasi sungguh-sungguh dibutuhkan untuk mengulangi bicara
seperti di Nice kepada penontonnya saat itu dengan hampir tidak ada perubahan. Jadi,
ini dia.
Makalah
ini akan membahas tentang pemikiran Paul Feyerabend yang lebih spesifik tentang
artikelnya yang berjudul How
To Defend Society Against Science (Cara Mempertahankan Masyarakat Terhadap
Ilmu). Untuk menjelaskan tentang artikelnya tersebut penulis
harus menerjemahnya terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan penulis yang
terbatas. Dalam menjelaskan pemikiran berharga ini penulis menggunakan studi
pustaka dan memanfaatkan berbagai media lain seperti internet.
A. Sketsa Kehidupan
& Pemikiran Paul Karl Feyerabend
Paul Karl
Feyerabend lahir pada tahun 1924 di Wina, Austria. Tahun 1945 belajar seni
suara, teater, dan sejarah teater pada Institute for Production of Theater,
The Methodological Reform The German Theater di Weimar. Memperoleh
gelar Ph.D (Doctor Of Philosophy) dalam bidang fisika dari Wina University dan
kemudian mengajar di California University. Tahun 1953 menjadi pengajar di
Bristol dan tahun-tahun berikutnya mengajar estetika, sejarah ilmu pengetahuan
dan filsafat di Austria, Jerman, Inggris, Selandia Baru dan Amerika
Serikat. Tahun 1958 menjadi guru besar di Universitas California di Berkeley
hingga wafat pada tahun 1994.
Awalnya ia
banyak dikenal sebagai seorang rasionalis. Ia percaya terhadap keunggulan ilmu
pengetahuan yang memiliki hukum-hukum universal, berlaku dalam segala tindakan
dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Keyakinan rasionalitas tersebut
tampak dari kiprahnya pada masa itu dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoritis
(A Club for Salvation of Theoritical Physics). Keanggotaannya dalam
kelompok tersebut melibatkannya dengan eksperimen-eksperimen ilmu alam dan
sejarah perkembangan ilmu fisika.[1]
Dari sana ia
melihat hubungan yang sesungguhnya antara eksperimen dan teori, dimana relasi
itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan dan dijelaskan. Ia kemudian
menyatakan diri sebagai seorang “anarkis” yang menentang penyelidikan terhadap
aturan-aturan penggantian teori dan pembangunan kembali pemikiran rasional dari
kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan. Gagasan tentang “apa saja boleh”[2] dan
sasaran dari kreativitas dalam ilmu pengetahuan adalah sebuah bentuk
pengembangbiakan teori-teori. Terjadinya perubahan pemikiran Paul Karl
Feyerabend setidaknya dipengaruhi oleh dua faktor penting. Yaitu karena
adanya perkembangan baru dalam ilmu fisika, terutama fisika kuantum yang telah
menolak beberapa patokan dasar fisika dengan prinsip-prinsip positivisme yang
ketika itu dianggap modern (Newtonian). Selain itu juga sambutan dari para
fisikawan/ filsuf terhadap teori mekanika kuantum yang dianggap sebagai
dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Gagasan Popper, Thomas S. Kuhn,
dan terutama Imre Lakatos sangat mempengaruhi pemikiran filsafatnya.[3]
B. How to Defend Society Against Science
Dalam tulisan
yang berjudul “How to Defend Society Against Science” ini Feyerabend
menegaskan motivasi utamanya untuk membebaskan atau setidaknya meminimalisir
ideologi dalam berpengetahuan. Paul Feyerabend ingin
membela masyarakat dan penduduknya dari berbagai ideologi, beserta ilmu. menurutnya
ideologi harus dalam perspektif karena terkadang ia memiliki muatan dan
kepentingan tertentu sehingga adakalanya ideologi harus diposisikan dan dibaca
seperti dongeng-dongeng yang
memiliki banyak hal yang menarik untuk diceritakan, tetapi juga mengandung kebohongan
(fairytales) jahat.
Sekarang,
apakah ini bukan sikap yang aneh dan konyol? Ilmu pasti selalu di garis depan
melawan otoritarianisme dan takhayul. Hal ini adalah bukan untuk ilmu yang
meningkatkan kebebasan intelektual kita vis-a-vis keyakinan keagamaan,
melainkan untuk ilmu dalam rangka pembebasan manusia dari bentuk-bentuk kuno
dan kaku pemikiran. Saat ini bentuk-bentuk pikiran hanyalah mimpi buruk dan ini
yang kita pelajari dari ilmu pengetahuan. Sains
dan pencerahan adalah satu dan hal yang sama. bahkan kritikus yang paling
radikal dari masyarakat percaya tersebut. Kropotkin ingin menggulingkan semua lembaga-lembaga tradisional dan
bentuk kepercayaan, dengan ilmu pengetahuan. Marx dan Engels yakin bahwa ilmu pengetahuan akan membantu para
pekerja dalam pencarian mereka untuk pembebasan mental dan sosial. Apakah semua
orang ini tertipu? Apakah mereka semua keliru tentang peran ilmu pengetahuan?
Apakah mereka semua korban?
Ilmu pengetahuan merupakan pilar utama yang
berupaya mengembangkan kebebasan intelektual sesesorang dari pemikiran yang
terlampau kaku dan kuno. Namun menjadi konyol ketika salah satu diantara produk
ilmu pengetahuan tersebut menjadi kebenaran mutlak dan tunggal yang
mengeliminasi produk-produk pemikiran lain yang tidak berkuasa atau diyakini
pada umumnya (mainstream). Pada akhirnya Feyerabend berkesimpulan
bahwa setiap ideologi yang berkuasa dan kemudian mempengaruhi “kebenaran” pada
satu masyarakat atau komunitas tertentu tanpa check dan balances
adalah sebuah tiran yang harus digulingkan.[4]
Selain itu,
Feyerabend juga ingin mengkritik ideologi ilmu itu sendiri. Dalam pandangan
Feyerabend ilmu pengetahuan tidak pernah menjalankan fungsi pembebasan ketika
diinstitusionalisasi dalam masyarakat. Suatu pengamatan sederhana dapat dilihat
sebagai contoh tentang hal ini. Dalam sekolah tentu saja ilmu pengetahuan
diajarkan. Anak-anak dalam umur sekitar enam tahun sudah masuk sekolah. Dan
orang tua masih mempunyai hak untuk menentukan apakah anak-anak mereka boleh
belajar agama Islam atau agama Kristen atau agama Budha. Orang tua dan
anak-anak mempunyai hak untuk memilih. Tetapi mereka tidak mempunyai hak untuk
memilih apakah anak-anak mereka harus belajar fisika, sejarah, astronomi, dan
sosiologi. Mereka harus membawa anak-anak mereka ke sekolah dan harus belajar
ilmu pengetahuan. Secara prinsipil kita bisa membayangkan adanya keterpisahaan
antara agama dan negara, tetapi tidak ada pemisahan antara ilmu pengetahuan dan
negara. Justru dalam hubungan yang semakin erat inilah ilmu pengetahuan
memainkan peranan sebagai ideologi, yang menekan kebebasan masyarakat secara
langsung. Seharusnya, menurut paul feyerabend antara ilmu dan negara harus
terpisah. Membebaskan masyarakat dari kungkungan ilmu yang membantu secara
ideologis, persisi seperti nenek moyang kita membebaskan kita dari kungkungan
agama satu-satunya yang benar[5]
Bagi Feyerabend,
sebaliknya, suatu masyarakat yang bebas hanya terjadi jika setiap warganya,
setelah belajar, dapat mengungkapkan pikirannya sendiri dan mengambil keputusan
yang paling baik bagi dirinya. Hal ini dapat terwujud jika setiap orang yang
belajar ilmu pengetahuan memiliki kesempatan yang sama belajar mengenai dongeng-dongeng
yang beredar dalam masyarakat. Ilmu pengetahuan dengan perkataan lain harus
ditempatkan di antara disiplin-disiplin lain dalam kurikulum pendidikan dasar
atau menengah. Karena yang dibutuhkan sebenarnya bukanlah ilmu pengetahuan
melainkan pengetahuan yang membebaskan. Ilmu pengetahuan, agama, dan mitologi
hanya sarana yang kita gunakan untuk tujuan pembebasan itu sendiri. Dalam
pandangan Feyerabend, masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang netral
terhadap ideologi (agama dan ilmu pengetahuan bisa bersifat ideologis).
Masyarakat tersebut harus menjamin agar setiap orang memiliki kebebasan dan
agar setiap orang tidak ditekan oleh semua bentuk ideologi, termasuk dalam hal
ini ilmu pengetahuan.
C. Kritik terhadap Feyerabend
Pemikiran
Feyerabend mengundang banyak tanggapan. Di antaranya terdapat tanggapan positif
bahwa melalui kampanyenya untuk menolak metode. Padahal, Feyerabend sebenarnya
tidak serta merta menolak semua metode ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ia ingin
menjelaskan kepada kita bahwa tidak ada metode ilmiah yang a historis dan
universal. Setiap metode ilmiah selalu terkait dengan sang ilmuwan yang
meneliti, komunitas yang menggunakan hasil penelitian dan konteks historis yang
menentukan problem penelitian ilmuwan. Terutama Feyerabend mengkritik cita-cita
positivisme yang mengusulkan universalitas metode-metode ilmiah, sebuah
cita-cita agar metode ilmu-ilmu alam dimanfaatkan dalam ilmu-ilmu sosial.
Cita-cita ini, demikian Feyerabend, tidak melihat bahwa setiap metode
berhubungan dengan masalah penelitian atau obyek penelitian: masalah alam
berbeda dengan masalah manusia. Dan karena setiap masalah memiliki cirinya yang
khusus maka setiap obyek penelitian menuntut metode yang semakin khusus. Tidak
ada keseragaman metode. Jika ini yang ingin dikembangkan, maka di sini
Feyerabend melontarkan gagasan ‘melawan metode’.
Namun
demikian, pemikiran Feyerabend memiliki kontradiksi pada dirinya sendiri. Atas
nama kebebasan, kita barangkali dapat menghargai kritiknya atas metode ilmu
pengetahuan yang berkembang sampai sekarang. Tetapi kebebasan yang ia maksud di
sini hanyalah kebebasan negatif. Kebebasan berarti setiap individu harus
membebaskan dirinya dari kukungan apa pun agar ia bisa melakukan apa yang ia
inginkan. Kebebasan jenis ini disebut kebebasan negatif: kebebasan dari.
Kebebasan
macam ini harus diimbangi dengan kebebasan positif: kebebasan untuk, artinya
seseorang bebas untuk melakukan sesuatu. Dalam hal kedua ini, kebebasan
individu selalu juga berarti memberikan tempat bagi kebebasan orang lain dalam
suatu komunitas, di mana ia dilahirkan dan dididik secara khas. Setiap orang
dilahirkan dalam suatu komunitas dengan karakteristik yang tidak dapat ia
hindari atau tentukan secara bebas. Juga ketika ia masuk sebuah universitas. Di
sana ia akan bertemu dengan berbagai macam teori, teknik matematis, instrumen
ilmiah dan teknik-teknik eksperimen. Kebebasan ilmu pengetahuan selalu
berkembang dalam situasi obyektif, di mana kebebasan orang lain tidak
terhindarkan lagi. Kebebasan orang lain tersebut merupakan batas obyektif bagi
kebebasannya.
Selain itu pemikiran Feyerabend mengandung sebuah ironi. Di satu sisi ia, dalam
teori ilmu pengetahuannya, menolak gagasan penelitian yang netral terhadap
teori, tetapi di sisi lain, dalam teori politiknya, ia justru menyetujui
gagasan negara yang netral terhadap ideologi. Di manakah di muka bumi ini ada
sebuah negara yang netral terhadap ideologi? Bagaimana persis fungsi dari
negara seperti itu? Tampaknya Feyerabend terjebak dalam pemikiran dikhotomi
antara totalitarianisme negara dan kebebasan absolut individual. Dengan menolak
mati-matian pandangan totalitarianisme negara, Feyerabend mencita-citakan
sebuah negara utopia, di mana semua manusia dapat melakukan apa yang ia
kehendaki, tanpa batas.
D. Kontekstualisasi
dalam Keindonesiaan
Dalam konteks
Indonesia, keberadaan Majelis Ulama Indonesia MUI, sebuah lembaga yang
berafiliasi dengan pemerintah dan beranggotakan tokoh-tokoh organisasi atau
institusi yang dianggap mewakili mainstream umat Islam di Indonesia
adalah sebuah gambaran yang juga menarik diketengahkan. Barangkali kehadirannya
diharapkan mampu menjadi pemersatu, penengah, mengakomodir dan memberikan
solosi bagi permasalahan-permasalahan kontemporer dan mendesak yang terjadi
dalam masyarakat berdasarkan perspektif agama. Namun yang perlu diingat dan
menjadi satu persoalan adalah ketika produk fatwa atau keputusan yang
dihasilkan oleh lembaga ini dianggap sebagai kebenaran tunggal, mutlak dan
harus dilaksanakan begitu adanya, sementara para perumus fatwa atau keputusan
tersebut tidak lepas dari cara pandang, ideologi atau kepentingan tertentu yang
secara sadar ataupun tidak telah mempengaruhi pemikiran mereka. Bahkan dalam
beberapa kasus terlihat kesewenang-wenangan lembaga ini dengan menyatakan
sekte-sekte dalam Islam yang memiliki kepercayaan dan ritual yang bukan mainstream
semisal Ahmadiah sebagai sekte yang sesat. Putusan MUI ini tidak mampu
mengakomodir permasalahan social-keagamaan dalam masyarakat secara arif
dan bijak sebagaimana diharapkan namun justru memancing resepsi massa yang
cenderung bersikap anarkis dengan melakukan penganiayaan maupun pengrusakan
terhadap anggota dan fasilitas peribadatan milik kelompok ini.
Barangkali
situasi tersebut yang digambarkan Paul Karl Feyerabend untuk dikritik dengan
anti ilmu pengetahuan (against science), dalam arti anti terhadap
kekuasaan ilmu pengetahuan yang menjadi pemikiran tunggal-mutlak karena adanya
propaganda dari para ilmuan dan institusi terkait yang diberi wewenang untuk
selalu mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat tentang hakikat ilmu
pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan yang dianggap paling benar itu telah
menguasai sistem kebenaran dunia ilmiah dan ideologi yang menindas kebudayaan
alternatif.[6]
Yang selalu
menjadi pengharapan bagi kita mungkin hanyalah sebuah negara yang netral
terhadap ideologi. Negara tidak dicampuri oleh idiologi sebagian kelompok
masyarakat mayoritas. Namun, apakah hal itu juga dianggap merupakan solusi yang
tepat untuk merubah paradigma masyarakat kita? Sedangkan masalah keagamaan di
indonesia sendiri masih belum terselesaikan.
Berdasarkan
pembacaan sederhana diatas dapat ditarik sebuah pemahaman yang lebih sederhana
bahwa motivasi utama Feyerabend adalah etika dan kebebasan setiap individu
dalam berpengetahuan. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend
disusun atas dasar protes terhadap proses pemapanan ilmu pengetahuan pada masa
itu yang menempatkan dan merumuskan ilmu pengetahuan hanya berdasarkan satu
atau beberapa metode tertentu.
Lebih lanjut
lagi, Puncak pemikiran Paul Karl Feyerabend tertuang dalam Against Method
yang terbit pada tahun 1970, sebuah karya panjang yang pada tahun 1975 diolah
lagi menjadi sebuah buku dengan judul yang sama. Terbitnya buku tersebut meraih
antusiasme publik dengan adanya berbagai kontroversi, diskusi dan kritik dari
para tokoh filsafat dan para ilmuan secara luas. Di dalamnya banyak dijelaskan
bahwa antara sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan mempunyai
keterkaitan timbal balik. Dijelaskan juga bahwa para ilmuan tidak bisa
melepaskan diri dari latar belakang historis bagi hukum-hukum, hasil-hasil
eksperimen, teknik-teknik matematis, parasangka-prasangka epistemologis dan
sikap-sikap mereka terhadap akibat-akibat aneh dari teori-teori diterimanya.
Selain itu, dalam Against Method diungkapkan juga upaya membuka
berbagai model alternatif demi pembaharuan suatu ilmu.
[1] Prasetya T.W., “Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu
Pengetahuan Paul Karl Feyerabend,” dalam Tim Redaksi Drikarya, Hakikat
Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 48.
[2] Secara harfiah berarti
membiarkan segala sesuatu berlangsung dan berjalan tanpa dijejali aturan-aturan
dan hukum-hukum
[3] Akhyar Yusuf Lubis, Paul Feyerabend: Penggagas
Anti-Metode (Jakarta: Teraju, 200), hlm. 101-102.
[4]
Paul Karl Feyerabend, “How to Defend Society…, hlm. 183
[5] A.F.Chalmers, Apa Itu Yang Dinamakan Ilmu: Suatu
Penilaian tentang watak dan status ilmu serta metodenya (Jakarta: Hasta Mitra, 1983), hlm. 152.
[6] Prasetya T.W. “Anarkisme
Pengetahuan…, hlm 58.
Komentar