MUSIK TANPA MAKNA

Oleh: Muhyiddin eL-Febiens
"Jika saya bisa memiliki buku Death Note malaikat Izrail, maka nama yang akan kutulis di buku itu pertama kali adalah Boy band dan Girl Band"  by. Malaikat Maut.
  
Korean Wave ("Gelombang Korea") adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop korea secara global di berbagai negara di dunia saat ini, termasuk di Indonesia. Sejak masuknya film-film korea ke Indonesia, dunia musik Indonesia pun akhirnya mengalami krisis identitas sehingga musik anak Indonesia banyak yang beraliran  korea (Boy Band).
Semakin berkembangnya drama Korea, gelombang itu pun semakin diterima oleh publik Indonesia. Pada awalnya, anak muda Indonesia terhipnotis dengan film serial drama korea yang berjudul Full Hous. film itu ditayangkan di stasiun televisi Indonesia sekitar tahun 2008. akibat dari film itu, musik Indonesia pun akhirnya ikut-ikutan terbawa gelombang tersebut. dan saat ini, musik Indonesia bisa dibilang telah kehilangan makna, bukan syair dari musik itu lah yang kemudian banyak diperhatikan oleh anak muda-mudi Indonesia. Tapi, ketampanan atau kecantikan dari Boy band dan Girl Band lah yang menjadi sangat disukainya. Musik ini lah yang saya sebut sebagai “musik tanpa makna”.
Fenomena di atas, sangat berbeda sekali dengan musik Indonesia dulu yang lebih bermakna dan berkualitas. kalau dulu, musik Indonesia sangat bernuansa Indonesia sekali dan akrab dengan kita. dan ketika mendengarkan musik khas Indonesia akan membuat kita menemukan inspirasi-inspirasi dalam mengarungi hidip ini. 
Lalu, mengapa musik Indonesia sekarang seakan selalu kehilangan makna? yaitu karena semua ini tak lepas dari permainan pasar. Pasar lah yang kemudian membentuk generasi muda Negeri ini menjadi Generasi Alay yang hanya suka dengan lagu-lagu tetang cinta yang  tidak bermutu.
Memberangus Musik Koreanisme
            masuknya musik ala korea ke Indonesia tidak bisa dibiarkan terus berkembang di Negara kita. saatnya kita mengembangkan musik khas kita sendiri dan sudah saatnya tperusahan industri musik di Indonesia sadar tentang dampak terhadap karakter anak bangsa. Seharusnya perusahaan-perusahaan tersebut mempunyai pertimbangan juga terhadap dampak dari sebuah musik yang diluncurkan. Yaitu, memilah-milih musik yang mempunyai makna yang berkualitas.
            Boy Band dan Girl Band harus diberangus sejak dini. Musik-musik mereka itu bukan lah suatu ciptaan kreatifitas manusia. Tapi, ciptaan pasar. Lebih baik kita mengembangkan musik asli kita sendiri dari pada mengembangkan musik yang diadopsi dari budaya lain. Misalnya, musik dangdut yang merupakan musik khas Negeri ini. Maksud saya adalah dangdut yaang ala raja Dangdut bang H. Rhoma Irama. Bukan dangdut yang ala koploan itu.
            Bahkan saat ini, dangdut telah disukai oleh orang-orang barat. Mereka bahkan ada yang sampai membuat website yang berisi tentang dangdut. Lalu, mengapa kita tidak mengembangkan musik kita ini? namun, dnegan berkembangnya zaman, dangdut ini harus juga dipoles sedikit. Agar lebih disukai oleh anak-anak muda. Seperti halnya Soni Two yag di komando oleh Ridho Roma adalah suatu langkah untuk mengembangkan musik dangdut. Saatnya dangdut direvolusi.
            Terakhir, mari kita berkarya dengan musik yang berkualitas. Yang tidak hanya tunduk pada perainan pasar. Berpikir idealis dalam bermusik itu juga merupakan salah satu kunci untuk membuat masyarakat kembali suka dengan musik ala Indonesia.

"Mari Kita Selamatkan Generasi muda Indonesia dari Racun-racun yang keterlaluan pragmatis"

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kiat mengirim tulisan ke Media

Tips Agar disukai cewek-cewek

Sebuah Tanda Tanya (?)