Jejak Langkah Harun Nasution*


GAGASAN ISLAM RASIONAL
Harun Nasution dilahirkan di Pematangsianar, daerah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada hari selasa, 25 September1919. Ia adalah putra dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Abdul Jabbar Ahmad, seorang ulama kelahiran Mandailing yang berkecukupan serta pernah menduduki jabatan sebagai Qadi, penghulu, Kepala Agama, Hakim Agama dan Imam Masjid di Kabupaten Simalungun. Sedangkan ibunya yang berasal dari Tanah Bato adalah seorang putri ulama asal mandaling dan masa gadisnya pernah bermukim di Makkah dan pandai bahasa Arab.
Pada masa mudanya, Harun Nasution bersekolah di sekolah dasar HIS (Hollandsche Indlansche School) dan lulus pada tahun 1934. Pada tahun 1937, lulus dari sekolah menengah pertama Moderne Islamietische Kweekschool. Kemudian, Ia melanjutkan pendidikan di Ahliyah Universitas Al-Azhar pada tahun 1940. Dan pada tahun 1952, meraih gelar sarjana muda di American University of Cairo.
Sedangkan prestasi dalam karirnya, beliau pernah meraih gelar doktor di Universitas McGill di Kanada pada tahun 1968. Selanjutnya, pada 1969 menjadi rektor di IAIN Syarif Hidayatullah dan UNJ. Pada tahun 1973, menjabat sebagai rektor IAIN Syarif Hidayatullah.
Dan akhirnya setelah lama berjuang, Harun Nasution wafat pada tanggal 18 September 1998 di Jakarta. Dan yang tersisa sampai saat ini hanyalah pemikirannya yang telah mewarnai dunia dengan islam rasionalnya. Dan inilah dia..
Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang memuji aliran Muktazilah (rasionalis), yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam ceramahnya, Harun selalu menekankan agar kaum muslim Indonesia berpikir secara rasional. Mengapa tawaran Harun ini muncul?
Pada waktu itu, dinilai olehnya bahwa masyarakat muslim mengalami kemunduran. Bahkan, hingga sekarang mungkin juga iya. Oleh sebab itu., Harun menyebutkan bahwa biang keladi kemunduran umat muslim tersebut adalah  karena teologi asy’ariyah. Dan lahirlah tawaran teologi mu’tazilah yang rasional sebagai pengganti teologi fatalistik tersebut.
Nasib Mu'tazilah, mazhab teologi paling rasional dalam sejarah klasik Islam, bisa diibaratkan mutiara yang tertutup debu. Berharga, tapi tak banyak ulama yang sudi melihat "kemilau" pemikiran kaum rasionalis yang dipelopori Washil bin Attha' pada abad XIII itu. Bahkan, sebagian dari mereka--atas dasar perbedaan pandangan teologis- -menuduh penganut mazhab tersebut kafir dan sesat.
Sikap kurang menyenangkan semacam itu pernah juga dialami oleh pemikir rasionalis tersebut. Waktu itu, Ia menulis tesis tentang pemikiran Muhammad Abduh, ulama modernis asal Mesir.  Kemudian dalam sebuah pertemuan ulama, Muhammad Hatta, mantan wakil presiden RI, pernah bertanya kepada Harun tentang tesisnya. "Mengapa tidak dipublikasikan saja?" tanya Bung Hatta. Sebagai jawaban, Harun mengatakan, ia takut akan reaksi negatif dari sebagian umat Islam.
Setelah tesisnya dipublikasikan, Ternyata dugaannya tak meleset. Ketika Harun mengungkapkan kesimpulannya bahwa Abduh seorang penganut Mu'tazilah, seorang tokoh Islam yang berada di dekat Harun dan Bung Hatta berkomentar, "Naudzubillah," ungkapan yang menyiratkan ketidaksukaan terhadap Mu'tazilah.
Memang kaum Mu'tazilah, menurut cendekiawan Fazlur Rahman, guru besar studi Islam di Universitas Chicago, AS, telah membawa rasionalitas demikian jauh dengan menyejajarkan kemampuan akal dengan wahyu dalam menemukan kebenaran agama. Pemikiran Mu'tazilah, dalam konteks waktu itu, dianggap melampaui zamannya.
Namun, kita bisa melihat bahwa beberapa tema pokok mazhab tersebut. seperti rasio disejajarkan dengan wahyu, manusia memiliki otoritas penuh atas perbuatannya, dan takdir Tuhan adalah final dengan diciptakannya sunatullah (hukum alam) cukup mempengaruhi cara pandang intelektual muslim hingga kini.
Kini, Harun telah berhasil membersihkan "debu" mutiara itu. Menurut Harun, teologi Mu'tazilah adalah embrio teologi rasional dan teologi liberal dalam Islam. dua aspek yang menurut pemikir terkemuka dari IAIN ini relevan untuk masyarakat modern. Benarkah teologi muktazilah cocok untuk Islam Indonesia yang sampai saat masih kental dengan Islam fatalistiknya?
Jika kita melihat Implikasi dari teologi rasional, seperti diperlihatkan pemikiran-pemikiran Harun, memang tampak moderat, lebih terbuka terhadap peradaban dan kebudayaan lain, dan tak terjebak pada satu mazhab (desakralisasi mazhab). Namun, bedanya dengan rasionalisme dan liberalisme, dua narasi besar yang menjadi landasan peradaban sekuler Barat, menurut Dr. Komaruddin Hidayat dari Yayasan Paramadina, Jakarta, rasionalisme Islam tak sampai meninggalkan wahyu sebagai instrumen kebenaran.
Sektrem-ekstremnya pemikir Islam, wahyu tetap sebagai sumber utama. Hanya, ruang untuk akal diperluas serta penafsirannya lebih kontekstual dan liberal. Dalam hal ini, filsafat mempunyai peran penting pemikiran ini. Kemudian, kita sebagai mahasiswa filsafat harus menganut teologi muktazilah? Sedangkan hal itu justru menuju desakralisasi madzhab seperti apa yang dikatakan harun.
Dari uraian tulisan yang membahas tentang pemikiran   Harun Nasution diatas. maka, penulis dapat menyimpulka nsebagai berikut:
Harun Nasution adalah seorang ahli ilmu kalam dan filsafat Islam yang disegani dan berpengaruh dengan corak pemikiranya yang rasional dan cenderung liberal. Sifat dan corak pemikiran demikian itu amat bertentangan dengan corak dan pmikiran Islam yang pada umumnya berkembang saat itu, yakni corak pemikiran yang tradisional dan terikat pada mazhab tertentu. Sifat dan corak pemikiran Harun Nasution yang demikian itu menyebabkan ia dianggap sebagai ilmuan yang sekular.
Pengaruh ide-ide dan gagasan Harun Nasution begitu terlihat jelas dalam bidang pendidikan karena merupakan alat untuk mengubah masyarakat dengan menggunakan pendidikan. Yakni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai medianya yang paling efektif dan signifikan.
*disampaikan dalam matakuliah Pemikiran Islam Indonesia Kontemporer

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kiat mengirim tulisan ke Media

Tips Agar disukai cewek-cewek

Sebuah Tanda Tanya (?)