NEGARA TUHAN MEMBUNUH TUHAN*


Muhyiddin eL-Febiens
 

Diyakini atau tidak, Agama adalah sesuatu yang mengajarkan kebaikan. Agama selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dari segala yang baik. Agama hadir ditengah-tengah kita untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Sayangnya, semua itu seringkali disalah tafsirkan oleh sebagian manusia dengan sebuah bentuk ekspresi yang jauh dari cita-cita agama tadi. Mereka beranggapan bahwa anarkisme adalah hal yang inheren dari agama. Lalu, mana Tuhan (yang katanya arrahman)? Pertanyaan yang persis seperti apa yang pernah dipertanyakan Nietzsche. Pertanyaan ini sudah terjawab bahwa tuhan telah hidup kembali. lalu, seperti apakah ajaran Tuhan? ‘aku ingin berkata pada kalian. Kita telah membunuh ajaran Tuhan kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya.

Bagaimana mungkin kita telah melakukan perbuatan semacam ini? Lalu apa yang harus dilakukan jika ajaran Tuhan mau dibunuh? Tidakkah kita mendengar suara orang-orang yang menggali kubur untuk mengubur ajaran Tuhan? Lalu pertunjukan tobat apa yang harus kita adakan? Apakah kita ingin menjadi Tuhan? Sehingga kita bebas menindas orang lain sebebas-bebasnya. Lalu, dimanakah negara? Aku sekarang ingin mencari negara.

Peristiwa pembunuhan ajaran Tuhan masih terus berjalan dan pembunuhnya masih bebas berkeliaran.  Tapi, mungkin belum sampai pada telinga orang-orang. Sadarkah kalian bahwa kekerasan-kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan dan memaksakan ajarannya menjadi negara, sebenarnya tanpa disengaja mereka telah mencoba untuk membunuh ajaran Tuhan. Yah...aku ingin bertanya lagi. Dimanakah negara pancasila?

Jauh pada masa awal kemerdekaan negeri ini, para tokoh kita telah merumuskan permasalahan tentang ideologi negara antara negara pancasila dan negara Islam. Aku merasa kasihan pada mereka. Usahanya waktu itu untuk mempersatukan bangsa, kini telah dicedrai.  Padahal, Saat itu para tokoh ulama’ dan negara melalui jalan yang moderat akhirnya mendapatkan kesepakatan untuk menjadikan Indonesia berdasarkan Pancasila. Kesepakatan ini diambil karena melihat bahwa rakyat Indonesia bukan hanya ada satu agama saja. Yah...negara kita memang subur Tuhan.

Agama dan negara dalam pespektif pancasila ibarat seorang suami yang melakukan poligami. Negara sebagai seorang suami dan agama-agama adalah istrinya. Negara harus adil dan moderat dalam mengambil sebuah keputusan. Namun, pada realitasnya hal itu semacam kebohongan semata. Ada seorang istri selalu berambisi untuk merebut laki-lakinya tersebut. Ingin merasakan kepuasan dari pelayanan seorang suami sehingga berbagai cara pun halal untuk dilakukan. Melihat hal ini, membuatku sakit jiwa. Walaupun saya cukup senang dengan mengatakan bahwa tidak semuanya elemen dari seorang istri tersebut melakukan hal yang demikian (Moderat). Hanya sebagian kecil yang memiliki nalar absolutisme.

Ketegangan antara kelompok moderat dengan gerakan garis keras adalah manifestasi perseteruan antara Al-Nafs Al Muthmainnah dengan hawa nafsu. Pengetahuan yang terbatas tidak mampu membedakan antara jalan dan Tujuan, dalam memahami agama pun kerap mempersetankan ayat-ayat lain yang tidak sejalan dengan ideologinya. Hal ini mencerminkan hilangnya daya nalar dalam beragama.

Saya kira Islam bisa berjalan selaras di negara ini, sebagaimana telah dicontohkan oleh NU dan Muhammadiyah misalnya. Sejak negara ini masih bayi mereka sudah bekerja keras untuk mengembangkan Islam yang ramah tamah terhadap siapa saja, bahkan terhadap kaum tidak beriman sekalipun. Keduanya telah berhasil hidup berdampingan dengan Istri negara yang lain. Dan dalam melakukan itu mereka sama sekali tidak memaksakan Islam merebut posisi negara sebagai suami. Bukankah ini lebih dapat menguatkan akar ajaran tuhan di bumi pertiwi? 

Suatu catatan kecil bagiku, dan wajib dicatat dalam pikiran kalian. Janganlah bunuh ajaran Tuhan dengan memaksakan negara Tuhan di bumi Indonesia! Lihatlah sejarah Andalusia! Bagaimana ajaran Tuhan (Islam) telah terbunuh karena khalifah muslim memaksakan Negara Islam di tengah komunitas beragama yang plural waktu itu. Wa allahhu a’lam.

*Tulisan ini Pernah dimuat di Buletin Bejad's Rasan-rasan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kiat mengirim tulisan ke Media

Tips Agar disukai cewek-cewek

Sebuah Tanda Tanya (?)