PERLUKAH KOMPETITOR PLN?
Oleh: Muhyiddin el-febiens*
Mati lagi-mati lagi… kata-kata inialh yang sering terungkap beberapa waktu ini menanggapi kematian listrik yang sering terjadi di Yogyakarta. Sebagai konsumen tentunya hal ini sangatlah merugikan, baik konsumen perorangan, maupun konsumen besar, seperti perusahaan. Ironisnya, perusahaan Listrik Negara (PLN) selaku badan usaha milik negara ini hanya bisa bilang, “mohon maaf atas ketidaknyamanan karena matinya listrik ini”.
Jika penyebab matinya listrik ini dikarenakan faktor cuaca, misalnya ada yang kesambar petir dan terkena pohon tumbang mungkin bisa dimaklumi oleh kita. Namun, jika pihak PLN beralasan karena masalah perawatan rutin maka hal ini perlu kita kritisi bersama.
Faktor perawatan rutin ini beda halnya dengan faktor cuaca. Faktor cuaca ini kondisi yang tidak bisa ditolak oleh kita dan timbul bukan karena kesalahan dari kita, melainkan karena proses alam. sedangkan faktor perawatan rutin adalah faktor yang merupakan kelalaian para petugas PLN yang tidak menjaga dengan baik hak para konsumen.
Yang harus diperhatikan juga oleh pemerintah jogja, bahwa masalah ini sangatlah mengganggu dunia usaha, karena beberapa perusahaan yang sangat tergantung sekali proses produksinya kepada listrik PLN, menjadi terkena dampaknya. Tentunya hal ini sangatlah merugikan para pengsaha pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Karena apabila listrik mati dengan tiba-tiba, maka kemungkinan besar alat eletronik, seperti computer, mesin cuci, foto copy dan lain-lain akan mengalami kerusakan. Tidak bisa jika hal ini hanya disikapi dengan menyatakan permohonan maaf.
Perusahaan yang bergerak dalam bidang perlistrikan di jogja masih di monopoli oleh PLN. Untuk itu perlu dibuka peluang untuk masuknya uasaha tandingan di bidang penyedia listrik selain PLN sehingga konsumen bisa memilih supplier yang terbaik dari yang ada.
Seperti halnya dalam dunia telekomunikasi, konsumen dapat memilih produsen yang terbaik bagi mereka, baik dari segi pelayanan maupun harga yang murah. Konsumen dapat pindah ke produsen lain apabila mereka tidak puas atas layanan yang diberikan, dan tentunya ini memberikan efek yang baik bagi terjadinya kompetisi yang baik.
Jika tidak ada persaingan seperti itu, PLN akan asyik dengan kesendiriannya dan akan sering mengabaikan pelayanan kepada konsumen. Mereka akan mempunyai anggapan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh PLN, karena mereka tergantung padanya untuk saatini.
Dengan kondisi seperti itu, bagaimna dnegan konsumen di jogja? apakah akan sabar atau akan melakukan hal-hal lain? Tentunya ini tergantung dari pihak PLN juga, apabila dapat memperbaiki kinerjanya dengan lebih cepat dan tepat, maka konsumen akan tenang, tetapi apabila mati listrik masih sering menjadi sering terjadi, hanya tinggal menunggu waktu saja, dan tentunya pemerintah tidak dapat pula berdiam diri.
Semoga PLN dapat menyelesaikan masalah dan tantangan ini dengan baik, karena bagaimana pun juga kita sebagai konsumen masih bergantung kepada PLN dalam hal penyediaan listrik, sejauh perusahaan listrik ini masih dimonopoli PLN.
*Penulis adalah Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tulisan ini pernah dimuat di Koran Harian Jogja pada tanggal 22 Maret 2011

Komentar