Laskar Of Philosophy
(Muhyiddin el-Febiens)
Laskar filosof adalah langkah diriku untuk menjadi king of philosophy. Seperti halnya untuk menjadi raja kita harus menjadi prajurit yang perkasa dulu dan tangguh. Bagi seorang prajurit perang adalah hobi bahkan mereka anggap sebagai seni. Berperang juga menjadi hobiku. Berperang dengan diriku sendiri. Berperang dengan kegelisahan tentang diriku, tentang alam, tentang manusia, dan tentang semua yang membuat aku dan mereka gelisah.
Mungkin ini adalah aliran baru. Aliran yang tak pernah menjadi sebentar.
Untuk menjadi king of philosophy kita butuh menjalani semua itu. tapi Itu hanya sebuah cita-cita yang tak perlu jadi ambisi. Dan aku hanya menjalani hobiku. Laskar filosof adalah sebuah manifestasi dari pemikiran-pemikiran para filosof. Seperti Sokrates, plato, Aristoteles, parabius, avicena, averous, ibnu khladun dan sebagainya. mereka sangat berpengaruh bagi phliosof sesudahnya. Dan itu aku anggap sebagai karma, karma kebijakan, karena filosof itu saling mempengaruhi. Dan aku juga akan dipengaruhi oleh mereka. Tapi aku hanya seorang laskar. Tugasku sekarang adalah menjadikan aku sebagai aku yang diinginkan Tuhan.
Kehidupan ini begitu nikmat bagi orang yang beruntung dan begitu sulit bagi orang yang sial. Tapi yang paling mudah bagiku adalah kematian dan begitu sulit adalah kehidupan. Aku ingin menyapa kematian untuk sekedar mengenalnya seperti halnya nabi idris yang sudah pernah ke surga dan menikmati surga dan tak mau untuk pergi ke dunia lagi karena melihat kenikmatan surga. Tapi siapakah aku ini? Bahkan kematian tak rela bila disapaku. dunia ini memang tak pantas untuk dijadikan kehidupan terakhir.
Siapakah Filosof yang Paling Bijak? Tak lain dan tak bukan adlah Sokrates. Dengan fatwanya dia berkata: “aku tahu bahwa dirku tak tahu”. Inilah kata yang selalu bijak terdengar ditelingaku. Dan kebijakan itu merupakan sesuatu yang tak pernah kuakui oleh diriku. Orang yang bijak adalah orang yang tak mengaku bahwa dirinya adalah bijak, orang yang pintar adalah orang yang tak mengaku-aku bahwa ia pintar. Dan kini, aku benar-benar yakin bahwa aku butuh rasa cinta pada kebijaksanaan.
“Cogito Ergo Sum” “Aku Berpikir Maka Aku ada”
Yogyakarta, 03 November 2010
Laskar filosof adalah langkah diriku untuk menjadi king of philosophy. Seperti halnya untuk menjadi raja kita harus menjadi prajurit yang perkasa dulu dan tangguh. Bagi seorang prajurit perang adalah hobi bahkan mereka anggap sebagai seni. Berperang juga menjadi hobiku. Berperang dengan diriku sendiri. Berperang dengan kegelisahan tentang diriku, tentang alam, tentang manusia, dan tentang semua yang membuat aku dan mereka gelisah.
Mungkin ini adalah aliran baru. Aliran yang tak pernah menjadi sebentar.
Untuk menjadi king of philosophy kita butuh menjalani semua itu. tapi Itu hanya sebuah cita-cita yang tak perlu jadi ambisi. Dan aku hanya menjalani hobiku. Laskar filosof adalah sebuah manifestasi dari pemikiran-pemikiran para filosof. Seperti Sokrates, plato, Aristoteles, parabius, avicena, averous, ibnu khladun dan sebagainya. mereka sangat berpengaruh bagi phliosof sesudahnya. Dan itu aku anggap sebagai karma, karma kebijakan, karena filosof itu saling mempengaruhi. Dan aku juga akan dipengaruhi oleh mereka. Tapi aku hanya seorang laskar. Tugasku sekarang adalah menjadikan aku sebagai aku yang diinginkan Tuhan.
Kehidupan ini begitu nikmat bagi orang yang beruntung dan begitu sulit bagi orang yang sial. Tapi yang paling mudah bagiku adalah kematian dan begitu sulit adalah kehidupan. Aku ingin menyapa kematian untuk sekedar mengenalnya seperti halnya nabi idris yang sudah pernah ke surga dan menikmati surga dan tak mau untuk pergi ke dunia lagi karena melihat kenikmatan surga. Tapi siapakah aku ini? Bahkan kematian tak rela bila disapaku. dunia ini memang tak pantas untuk dijadikan kehidupan terakhir.
Siapakah Filosof yang Paling Bijak? Tak lain dan tak bukan adlah Sokrates. Dengan fatwanya dia berkata: “aku tahu bahwa dirku tak tahu”. Inilah kata yang selalu bijak terdengar ditelingaku. Dan kebijakan itu merupakan sesuatu yang tak pernah kuakui oleh diriku. Orang yang bijak adalah orang yang tak mengaku bahwa dirinya adalah bijak, orang yang pintar adalah orang yang tak mengaku-aku bahwa ia pintar. Dan kini, aku benar-benar yakin bahwa aku butuh rasa cinta pada kebijaksanaan.
“Cogito Ergo Sum” “Aku Berpikir Maka Aku ada”
Yogyakarta, 03 November 2010

Komentar