Guruku Aristoteles (Filosof dari masa lampau)
bagaimna semestinya kita hidup? apa yang perlukan untuk menjalani kehidupan yang baik? itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam otakku ketika bercengkrama dengan alam. alam memang sangat membantuku untuk menemukan hal-hal yang sederhana tapi sangat berarti bagi sebuah kehidupan. aku teringat dengan syair gie seorang yang cukup kritis di zaman revolusi.
"Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu
Yang sebenarnya
Hakikat manusia" Gie
ketika aku berada di atas genteng kos, aku menatap tajam pada langit yang begitu luas. sehingga aku pun menjadi tak berarti. aku jadi berpikir, bagaimna bisa aku sanggup untuk melihat Tuhan untuk saat ini, sedangankan melihat ciptaan Nya saja dahiku sudah mengerut seperti orang keriput. dan siapakah aku ini? aku jawab aku adalah manusia. siapakah manusia itu? aku jawab tak tahu. tapi jangan pernah khawatir atas ketidaktahuan karena kita bisa berbagi waktu dengan alam. dan akan akan tahu hakikatk manusia yang sebenarnya.
Pertanyaan-pertanyaan diatas sedang menghantuiku waktu itu, diatas genteng kosku yang sepi disitu aku serinng merenung sendiri tanpa tujuan yang pasti. pertanyaan itulah dasar dari sebuah etika kehisupan. almarhum guruku Aristoteles kemudian berbisik padaku, entah aku tak tahu dari mana asal bisikan itu. tapi seakan kenal apa yang sedang dibicarakannya. iya...dia sedang mencoba untuk menjelaskan padaku atas pertanyaan itu. dia berbisik padaku "bahwa manusia itu bisa mendapatkan kebahagiannya dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dan kecakapannya"
namun suara itu kemudian menghilang. dan aku mulai berpikir lagi tentang apa yang dijelaskannya tadi. "kebahagiaannn...???" suara hatiku mempertanyakan lagi. bagaimna bentuk kebahagiaan itu wahai guruku? kataku dalam hati. angin berdesir ditelingaku tapi suara itu belum kunjung datang menghampiri telingaku. aku diam sejenak konsentrasi...bersambung..
..masih mau keluar bentar...
Waktu Jeda: (beberapa waktu setelah keluar tadi aku akan ceritakan padamu kawan bahwa aku tadi habis ditilang...ah...sial.)
oke, Lanjut lagi.......mari kita konsentrasi lagi...setelah aku merenung sebentar tentang kebahagiaan kemudian suara itu muncul lagi. "sampai jumpa lagi prajuritku" suara itu memulai "aku lupa tadi untuk menjelaskan tentang kebahagiaan, kau perlu tahu bahwa bentuk kebahagiaan itu ada tiga. yang pertama adalah hidup senang dan nikmat. yang kedua: menjadi Warga negara yang Bebas dan bertanggung jawab dan yang terakhir adalah menjadi seorang ahli pikir dan filosof.
oooww....aku manggut-manggut seakan paham apa yang disuarakan suara itu. aku pikir semua bentuk itu sedang aku proses dalam perjalan hidupku untuk mencar sebuah jati diri. kehidupan adalah pencarian jati diri. begitulah kata hatiku.
dalam proses berhubungan antara manusia dengan manusia lainnya sungguh sulit jika tidak dibarengi dengan etika. dewasa ini kita dituntut untuk tahu tentang politik dalam hal ini kucoba untuk mengukuti suara bayangan itu bahwa dalam hubungan ini kita harus jadi "jalan tengah" yakni jika kita terlalu sedikit akan keberanian berarti pengecut, terlalu banyak berarti gegabah. hal itulah yang dijadikan salah satu bekal untuk menghadapi masanya orang berpolitik.
seperti itulah suara itu mengajariku. suara itu adalah suara Aristoteles salah satu dari guruku.
sampai jumpa lagi dilain waktu kawan......
"Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu
Yang sebenarnya
Hakikat manusia" Gie
ketika aku berada di atas genteng kos, aku menatap tajam pada langit yang begitu luas. sehingga aku pun menjadi tak berarti. aku jadi berpikir, bagaimna bisa aku sanggup untuk melihat Tuhan untuk saat ini, sedangankan melihat ciptaan Nya saja dahiku sudah mengerut seperti orang keriput. dan siapakah aku ini? aku jawab aku adalah manusia. siapakah manusia itu? aku jawab tak tahu. tapi jangan pernah khawatir atas ketidaktahuan karena kita bisa berbagi waktu dengan alam. dan akan akan tahu hakikatk manusia yang sebenarnya.
Pertanyaan-pertanyaan diatas sedang menghantuiku waktu itu, diatas genteng kosku yang sepi disitu aku serinng merenung sendiri tanpa tujuan yang pasti. pertanyaan itulah dasar dari sebuah etika kehisupan. almarhum guruku Aristoteles kemudian berbisik padaku, entah aku tak tahu dari mana asal bisikan itu. tapi seakan kenal apa yang sedang dibicarakannya. iya...dia sedang mencoba untuk menjelaskan padaku atas pertanyaan itu. dia berbisik padaku "bahwa manusia itu bisa mendapatkan kebahagiannya dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dan kecakapannya"
namun suara itu kemudian menghilang. dan aku mulai berpikir lagi tentang apa yang dijelaskannya tadi. "kebahagiaannn...???" suara hatiku mempertanyakan lagi. bagaimna bentuk kebahagiaan itu wahai guruku? kataku dalam hati. angin berdesir ditelingaku tapi suara itu belum kunjung datang menghampiri telingaku. aku diam sejenak konsentrasi...bersambung..
Waktu Jeda: (beberapa waktu setelah keluar tadi aku akan ceritakan padamu kawan bahwa aku tadi habis ditilang...ah...sial.)
oke, Lanjut lagi.......mari kita konsentrasi lagi...setelah aku merenung sebentar tentang kebahagiaan kemudian suara itu muncul lagi. "sampai jumpa lagi prajuritku" suara itu memulai "aku lupa tadi untuk menjelaskan tentang kebahagiaan, kau perlu tahu bahwa bentuk kebahagiaan itu ada tiga. yang pertama adalah hidup senang dan nikmat. yang kedua: menjadi Warga negara yang Bebas dan bertanggung jawab dan yang terakhir adalah menjadi seorang ahli pikir dan filosof.
oooww....aku manggut-manggut seakan paham apa yang disuarakan suara itu. aku pikir semua bentuk itu sedang aku proses dalam perjalan hidupku untuk mencar sebuah jati diri. kehidupan adalah pencarian jati diri. begitulah kata hatiku.
dalam proses berhubungan antara manusia dengan manusia lainnya sungguh sulit jika tidak dibarengi dengan etika. dewasa ini kita dituntut untuk tahu tentang politik dalam hal ini kucoba untuk mengukuti suara bayangan itu bahwa dalam hubungan ini kita harus jadi "jalan tengah" yakni jika kita terlalu sedikit akan keberanian berarti pengecut, terlalu banyak berarti gegabah. hal itulah yang dijadikan salah satu bekal untuk menghadapi masanya orang berpolitik.
seperti itulah suara itu mengajariku. suara itu adalah suara Aristoteles salah satu dari guruku.
sampai jumpa lagi dilain waktu kawan......

Komentar