Filsafat Bola
Iddiens Cr9 dilahirkan di bawean, gresik,
03 November 1990. setelah menyelesaikan
SMA di PonPes Sukorejo, Situbondo, kini
Ia melanjutkan studi S-1 di UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, Jurusan Aqidah dan Filsafat, sambil
merefleksikan filsafat foot ball-nya
“world is like foot ball”
Pada suatu hari aku iseng mengajak temanku yang tidak suka dan tidak mengerti bola nonton bola. Sepanjang pertandingan aku tidak dapat menikmati pertandingan itu teman gue nanya melulu’ “aku heran liat orang-orang itu pada rebutan bola tapi pas udah di miliki ko’ bolanya di kasih ke yang lain lagi”
Aku menjawab acuh “ dah ga’ usah banyak tanya , munkin peraturannya dan permainan bola emang kaya’ gitu”.
Eh temnku malah nanya lagi “kenapa peraturan dan permainannya harus kaya’ gitu’, g’ penting banget dech…..
“ itulah sepak bola, kamu itu harus memahami ketidak pahamanmu bukan dari dalam dirimu, kamu harus memahami sesuatu dari apa yang kamu lihat”. Kalau boleh aku analogikan hidup sebenarnya mirip dengan sepak bola. Dalam hidup tau2 kita hidup dan tau2 kehidupan kita sudah harus seperti ini, tau2 kita sudah dihadapkan pada kehidupan orang lain yang kadang tidak pernah kita pahami, kita berintraksi, mati, hidup, membenci, mencintai dll.
kemudian kalau hidup tau2 sudah seperti itu apakah kau pun akan nanya kenapa hidup harus seperti ini, kenapa tuhan menciptakan hidup harus seperti ini?ya…itulah hidup dengan peraturan dan ketentuannya sendiri. Tapi yang paling penting yang harus kamu ketahui adalah dalam sepak bola kamu mempunyai kebebasan untuk berkreasi, akan tetapi kreasi kamu itu harus tidak melanggar peraturannya misalnya jika main bola tidak boleh pakai tangan, dan melanggar peraturan-praturan yang lain. hidup juga seperti itu, kamu bebas didunia ini asal tak melanggar peraturannya (peraturan hidup) atau kalu dalam ajaran islam disebut dengan syari’at. Orang kadang bilang bebas adalah ketika kita bisa dan dapat melaksanakan ide ataupun paradigma, prespektif, ideology yang kita miliki, akan tetapi kalau kita perhatiin sebenarnya orang itupun tidak bebas karena secara bersamaan orang itu terkungkung dengan pandangan hidupnya sendiri, itulah katanya Sartre kenapa dia sebut kehidupan itu adalah absurd, tapi gue sih ga’ sependapat dengan yang di bilangin om. Sartre so om. Sartre melihat kehidupan tanpa melibatkan suatu hal yang mengatasi kehidupan yang begitu real yang dalam Perennialisme di sebut “sebagai sesuatu yang tak terkatakann’, atau katanya Rodolf Otto sebagai yang “Mesterium Teremendum” atau katanya Nasr dan Smith sebagai rialitas mutlak.
Dunia ini juga dapat dianalogikan seperti Sepak bola karena pada intinya tujuan utama yang ingin dicapai oleh pemain sepak bola adalah memasukkan bola ke gawang sehingga mendapatkan kemenangan yang akan membawa pada kebahagiaan. Begitu juga dalam dunia ini. World Is Like Foot Ball, dunia ini adalah sebuah permainan dan atletnya adalah manusia. Tujuan manusia hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah ingin menamukan tuhannya. Kemudian mereka bertanya-tanya, dimanakah tuhan sekarang?Dia sekarang berada di singgana yang tidak dapat di jangkau oleh manusia. Oleh karena itu umat manusia dalam menjani kehidupan di dunia ini muncul perbedaan konsep untuk mencapai yang Mutlak. Baik melalui kepercayaannya terhadap agama Yahudi, Islam, dan Kristen.
Berdasarkan sumber atau sejarahnya dari agama-agama di atas pada intinya sama-sama ingin menuju yang maha Esa. Oleh karena itu, terkait perbedaan-perbedaan itu kita sebagai hamba yang memanusiakan manusia (katanya almarhun ……) tidak boleh melegitimasi diri sendiri dengan melakukan kekerasan. Diakui atau tidak pada dasarnya orang yang mengaku-ngaku ateis pun atau tidak bertuhan dan sebagainya tampa sadar mereka membutuhkan terhadap yang maha kuasa. Mereka kadang-kadang spontanitas melakukan suatu pengaharapan kepada sesuatu yang tidak pernah diakuinya yaitu tuhan.
Army Philosopher, Yogyakarta, 06 Desember 2008
03 November 1990. setelah menyelesaikan
SMA di PonPes Sukorejo, Situbondo, kini
Ia melanjutkan studi S-1 di UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, Jurusan Aqidah dan Filsafat, sambil
merefleksikan filsafat foot ball-nya
“world is like foot ball”
Pada suatu hari aku iseng mengajak temanku yang tidak suka dan tidak mengerti bola nonton bola. Sepanjang pertandingan aku tidak dapat menikmati pertandingan itu teman gue nanya melulu’ “aku heran liat orang-orang itu pada rebutan bola tapi pas udah di miliki ko’ bolanya di kasih ke yang lain lagi”
Aku menjawab acuh “ dah ga’ usah banyak tanya , munkin peraturannya dan permainan bola emang kaya’ gitu”.
Eh temnku malah nanya lagi “kenapa peraturan dan permainannya harus kaya’ gitu’, g’ penting banget dech…..
“ itulah sepak bola, kamu itu harus memahami ketidak pahamanmu bukan dari dalam dirimu, kamu harus memahami sesuatu dari apa yang kamu lihat”. Kalau boleh aku analogikan hidup sebenarnya mirip dengan sepak bola. Dalam hidup tau2 kita hidup dan tau2 kehidupan kita sudah harus seperti ini, tau2 kita sudah dihadapkan pada kehidupan orang lain yang kadang tidak pernah kita pahami, kita berintraksi, mati, hidup, membenci, mencintai dll.
kemudian kalau hidup tau2 sudah seperti itu apakah kau pun akan nanya kenapa hidup harus seperti ini, kenapa tuhan menciptakan hidup harus seperti ini?ya…itulah hidup dengan peraturan dan ketentuannya sendiri. Tapi yang paling penting yang harus kamu ketahui adalah dalam sepak bola kamu mempunyai kebebasan untuk berkreasi, akan tetapi kreasi kamu itu harus tidak melanggar peraturannya misalnya jika main bola tidak boleh pakai tangan, dan melanggar peraturan-praturan yang lain. hidup juga seperti itu, kamu bebas didunia ini asal tak melanggar peraturannya (peraturan hidup) atau kalu dalam ajaran islam disebut dengan syari’at. Orang kadang bilang bebas adalah ketika kita bisa dan dapat melaksanakan ide ataupun paradigma, prespektif, ideology yang kita miliki, akan tetapi kalau kita perhatiin sebenarnya orang itupun tidak bebas karena secara bersamaan orang itu terkungkung dengan pandangan hidupnya sendiri, itulah katanya Sartre kenapa dia sebut kehidupan itu adalah absurd, tapi gue sih ga’ sependapat dengan yang di bilangin om. Sartre so om. Sartre melihat kehidupan tanpa melibatkan suatu hal yang mengatasi kehidupan yang begitu real yang dalam Perennialisme di sebut “sebagai sesuatu yang tak terkatakann’, atau katanya Rodolf Otto sebagai yang “Mesterium Teremendum” atau katanya Nasr dan Smith sebagai rialitas mutlak.
Dunia ini juga dapat dianalogikan seperti Sepak bola karena pada intinya tujuan utama yang ingin dicapai oleh pemain sepak bola adalah memasukkan bola ke gawang sehingga mendapatkan kemenangan yang akan membawa pada kebahagiaan. Begitu juga dalam dunia ini. World Is Like Foot Ball, dunia ini adalah sebuah permainan dan atletnya adalah manusia. Tujuan manusia hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah ingin menamukan tuhannya. Kemudian mereka bertanya-tanya, dimanakah tuhan sekarang?Dia sekarang berada di singgana yang tidak dapat di jangkau oleh manusia. Oleh karena itu umat manusia dalam menjani kehidupan di dunia ini muncul perbedaan konsep untuk mencapai yang Mutlak. Baik melalui kepercayaannya terhadap agama Yahudi, Islam, dan Kristen.
Berdasarkan sumber atau sejarahnya dari agama-agama di atas pada intinya sama-sama ingin menuju yang maha Esa. Oleh karena itu, terkait perbedaan-perbedaan itu kita sebagai hamba yang memanusiakan manusia (katanya almarhun ……) tidak boleh melegitimasi diri sendiri dengan melakukan kekerasan. Diakui atau tidak pada dasarnya orang yang mengaku-ngaku ateis pun atau tidak bertuhan dan sebagainya tampa sadar mereka membutuhkan terhadap yang maha kuasa. Mereka kadang-kadang spontanitas melakukan suatu pengaharapan kepada sesuatu yang tidak pernah diakuinya yaitu tuhan.
Army Philosopher, Yogyakarta, 06 Desember 2008
Komentar