Epistimologi dan logika
Pengetahuan
Pengetahuan adalah khazanah kekayaan mental yang dimiliki manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang memperkaya kehidupannya. Pengetahuan jugalah yang merupakan jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Menurut Louis Q Kattsef, sumber pengetahuan adalah manusia. Dari sini lahirlah beberapa aliran didalamnya:
* Empiris yang melahirkan empirisme.
* Rasio yang meklahirkan rasionalisme.
* Fenomena yang melahirkan fenomenologi.
* Intuisi yang melahirkan intuisionisme.
Karena hakekat pengetahuan adalah memberi jawaban yang benar maka dalam filsafat lahirlah teori kebenaran yang memiliki 3 ciri yaitu:
· Apa (ontology)
· Bagaimana (epistimologi)
· Untuk apa (aksiologi)
Epistimologi
Epistimologi berasal dari bahasa Yunani episteme berarti knowledge atau pengetahuan. Logi berarti teori. Epistimologi berarti teori pengetahuan atau filasat ilmu, yang landasannya adalah metode ilmiah.
Pengetahuan mencoba mendeskripsikan sebuah gejala dengan sepenuh-penuhnya makna. Sedangkan ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan cara penyelesaian tentang berbagai kejadian.
Empirisme berpendapat, “ Manusia mendapat pengetahuan melalui pengalaman langsung dengan panca inderanya (fakta empiris) yang dibantu dengan peralatan yang ada disekitar dan panca inderanya (dunia empiris). Contoh: bagaimana orang mengetahui air bisa berubah menjadi es? Jawabannya: karena saya melihatnya demikian, karena seorang ilmuan pun melihatnya demikian dll. Dan untuk mendapatkan pengetahuan, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek empiris, karenapengetahuan dianggap benar apabila selama kita dapat menerima asumsi yang dikemukakan”.
Contoh: seorang pengusaha akan mendirikan pabrik sepatu di suatu daerah. Untuk tujuan tersebut maka ia bentuk dua tim untuk melakukan survey. Hasil survey, tim kesatu: tidak seorang pun penduduk di daerah tersebut yang memakai sepatu maka kesimpulannya, tidak perlu didirikan pabrik sepatu.
Sedangkan tim kedua menyarankan sebaliknya, karena orang yang tidak bersepatu bukanlah sesuatu yang tidak dapat dirubah.
Rasionalisme dipelopori oleh Descartes berpendapat bahwa “Sumber pengetahuan terletak pada akal. Pengalaman dipandang sebagai jenis perangsang pikiran. Kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide kita. Kebenaran ada dalam akal budi saja”. Aliran ini berusaha menemukan kebenaran pengetahuan yang tidak dapat diragukan lagi dengen metode deduktif. Ykni menrik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menjadi khusus. Contoh : Semua manusia akan mati, Budi adalah manusia, kesimpulan Budi akan mati.
Fenomenalisme dipelopori oleh Immanuel Kant, filusus Jerman pada abad ke-18, lebih nitik beratkan pada fakta-fakta. Contoh :
* Pernyataan “kuman tifus menyebabkan demam tifus”
* Bagaimana kita dapat mengetahui keadaan sebab akibat
* Bila ada orang yang menderita tifus tentu mendapat kuaan tersebut. Namun bila tidak terdapat dalam diri oarang terseebtmakan tidak akan menderita tifus.
Intuisionisme lebih menitik beratkan pada sifat lahiriah pengethuan simbolis yang pada dasarnya lebih bersifat analitis. Bergson berpendapat bahwa, aliran ini merupakan sarana untuk mengetahui secara langsung analisa atau pengetahuan yang diperoleh dengan cara pelukisan meski tidak dapat mengunakan hasil pengenalan secara langsung, unsur yang ada di dalamnya pun memungkinkan suatu bentuk pengalaman disamping pengalaman yang dihayati oleh indera.
Contoh : Saya mendengar cerita tentang peperangan yang terjadi di gurun sahara. Saya membayangkan kejadian yang mengerikan jika saya berada disana. Saya mungkin akan mencatat sesuatu tentang kejadian itu meski saya tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana perasaan saya. Mungkin uraian ini lengkap tapi saya tidak mengetahui apa ini benar-benar terjadi.
Logika
Secara etimologi logika berasal dari kata Yunani Logike (kata sifat) berhubungan dengan logo. Artinya pikiran adalah berpikir adalah suatu kegitan jiwa untuk mencapai pengetahuan
Secara terminologi artinya ilmu yang memberikan prinsip-prinsip/ aturan-atuanyang aharus diikuti agar dapat berpikir valid (shahih).
Logika adalah cabang filsafat yang dikembangkan oleh Aristoteles.
· Logika digolongkan kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Logika menampilkan norma norma berpilar benar untuk membentuk pengetahuan benar.
· Logika menyatakan, menjelaskan, mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan pengetahuan
· Logika menambahkan daya berpikir abstrak dan melatih serta mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan disiplin intelektual
· Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan aoutoriti.
Logika adalah ilmu normatif (membicarakan segala sesuatu sebagaimana sesuatu itu harus ada). Kebenaran (self consistency) dalam logika ada dua yaitu :
1. Kebenaran bentuk yang disebut logika formal (formal logic) yakni membicarakan ketepatan kesimpulan. Contoh argumen : Semua manusia adalah immortal, semua manusia adalah manusia, karena itu semua siswa adalah immortal. Menurut bentuknya argumen ini benar, tetapi isinya tidak benar. Bentuknyamemenuhi semua peraturan premis “semua manusia adalah immortal” itu salah. Konklusi materinya juga salah.
2. Kebenaran materi yang disebut logika material (material logic), membuktikan atau menguji isi keputusan yang berdasarkan proposisi bentuk yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Contoh argumen : Semua manusia adalah mortal, semua siswa adalah manusia, karena itu semua siswa adalah mortal.
Pengetahuan adalah khazanah kekayaan mental yang dimiliki manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang memperkaya kehidupannya. Pengetahuan jugalah yang merupakan jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Menurut Louis Q Kattsef, sumber pengetahuan adalah manusia. Dari sini lahirlah beberapa aliran didalamnya:
* Empiris yang melahirkan empirisme.
* Rasio yang meklahirkan rasionalisme.
* Fenomena yang melahirkan fenomenologi.
* Intuisi yang melahirkan intuisionisme.
Karena hakekat pengetahuan adalah memberi jawaban yang benar maka dalam filsafat lahirlah teori kebenaran yang memiliki 3 ciri yaitu:
· Apa (ontology)
· Bagaimana (epistimologi)
· Untuk apa (aksiologi)
Epistimologi
Epistimologi berasal dari bahasa Yunani episteme berarti knowledge atau pengetahuan. Logi berarti teori. Epistimologi berarti teori pengetahuan atau filasat ilmu, yang landasannya adalah metode ilmiah.
Pengetahuan mencoba mendeskripsikan sebuah gejala dengan sepenuh-penuhnya makna. Sedangkan ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan cara penyelesaian tentang berbagai kejadian.
Empirisme berpendapat, “ Manusia mendapat pengetahuan melalui pengalaman langsung dengan panca inderanya (fakta empiris) yang dibantu dengan peralatan yang ada disekitar dan panca inderanya (dunia empiris). Contoh: bagaimana orang mengetahui air bisa berubah menjadi es? Jawabannya: karena saya melihatnya demikian, karena seorang ilmuan pun melihatnya demikian dll. Dan untuk mendapatkan pengetahuan, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek empiris, karenapengetahuan dianggap benar apabila selama kita dapat menerima asumsi yang dikemukakan”.
Contoh: seorang pengusaha akan mendirikan pabrik sepatu di suatu daerah. Untuk tujuan tersebut maka ia bentuk dua tim untuk melakukan survey. Hasil survey, tim kesatu: tidak seorang pun penduduk di daerah tersebut yang memakai sepatu maka kesimpulannya, tidak perlu didirikan pabrik sepatu.
Sedangkan tim kedua menyarankan sebaliknya, karena orang yang tidak bersepatu bukanlah sesuatu yang tidak dapat dirubah.
Rasionalisme dipelopori oleh Descartes berpendapat bahwa “Sumber pengetahuan terletak pada akal. Pengalaman dipandang sebagai jenis perangsang pikiran. Kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide kita. Kebenaran ada dalam akal budi saja”. Aliran ini berusaha menemukan kebenaran pengetahuan yang tidak dapat diragukan lagi dengen metode deduktif. Ykni menrik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menjadi khusus. Contoh : Semua manusia akan mati, Budi adalah manusia, kesimpulan Budi akan mati.
Fenomenalisme dipelopori oleh Immanuel Kant, filusus Jerman pada abad ke-18, lebih nitik beratkan pada fakta-fakta. Contoh :
* Pernyataan “kuman tifus menyebabkan demam tifus”
* Bagaimana kita dapat mengetahui keadaan sebab akibat
* Bila ada orang yang menderita tifus tentu mendapat kuaan tersebut. Namun bila tidak terdapat dalam diri oarang terseebtmakan tidak akan menderita tifus.
Intuisionisme lebih menitik beratkan pada sifat lahiriah pengethuan simbolis yang pada dasarnya lebih bersifat analitis. Bergson berpendapat bahwa, aliran ini merupakan sarana untuk mengetahui secara langsung analisa atau pengetahuan yang diperoleh dengan cara pelukisan meski tidak dapat mengunakan hasil pengenalan secara langsung, unsur yang ada di dalamnya pun memungkinkan suatu bentuk pengalaman disamping pengalaman yang dihayati oleh indera.
Contoh : Saya mendengar cerita tentang peperangan yang terjadi di gurun sahara. Saya membayangkan kejadian yang mengerikan jika saya berada disana. Saya mungkin akan mencatat sesuatu tentang kejadian itu meski saya tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana perasaan saya. Mungkin uraian ini lengkap tapi saya tidak mengetahui apa ini benar-benar terjadi.
Logika
Secara etimologi logika berasal dari kata Yunani Logike (kata sifat) berhubungan dengan logo. Artinya pikiran adalah berpikir adalah suatu kegitan jiwa untuk mencapai pengetahuan
Secara terminologi artinya ilmu yang memberikan prinsip-prinsip/ aturan-atuanyang aharus diikuti agar dapat berpikir valid (shahih).
Logika adalah cabang filsafat yang dikembangkan oleh Aristoteles.
· Logika digolongkan kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Logika menampilkan norma norma berpilar benar untuk membentuk pengetahuan benar.
· Logika menyatakan, menjelaskan, mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan pengetahuan
· Logika menambahkan daya berpikir abstrak dan melatih serta mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan disiplin intelektual
· Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan aoutoriti.
Logika adalah ilmu normatif (membicarakan segala sesuatu sebagaimana sesuatu itu harus ada). Kebenaran (self consistency) dalam logika ada dua yaitu :
1. Kebenaran bentuk yang disebut logika formal (formal logic) yakni membicarakan ketepatan kesimpulan. Contoh argumen : Semua manusia adalah immortal, semua manusia adalah manusia, karena itu semua siswa adalah immortal. Menurut bentuknya argumen ini benar, tetapi isinya tidak benar. Bentuknyamemenuhi semua peraturan premis “semua manusia adalah immortal” itu salah. Konklusi materinya juga salah.
2. Kebenaran materi yang disebut logika material (material logic), membuktikan atau menguji isi keputusan yang berdasarkan proposisi bentuk yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Contoh argumen : Semua manusia adalah mortal, semua siswa adalah manusia, karena itu semua siswa adalah mortal.
Komentar