15 Apr 2009

IDEOLOGI DUNIA

@@@@@@@@
Yang dirindukan oleh masyarakat sekarang ini adalah terbentuknya negara yang adil dan makmur. Baik negara- negara yang menganut faham demokrasi ataupun negara-negara yang menamakan dirinya sosialis, semuanya menginginkan keadilan dan kemakmuran yang merata keseluruh rakya. Tidak ada lagi perbedaan si kaya dan si miskin, tetapi kemakrmuran menjadi milik semua rakyat.
Baik di Amerika dan Eropa ataupun di Rusia dan Cina, bahkan di negara-negara yang tidak termasuk kedalam dua blok itu, yang didalamnya juga terdapat dunia islam, mencita-citakan adil makmur itu. Meskipun jalan yang ditempuh bermacam-macam, tetapi tujuan tetap sama, yaitu adil dan makmur dan tidak heran kalau didalam praktek cita-cita yang sama yang dinamakan adil makmur itu banyak perbedaannya. Hal ini karena disebabkan berbedanya ideologi dan bertentangan satu sama lain teori-teori yang dipakai.
Didalam abad aini telah dua kali diminta untuk berperang guna mempertahankan keyakinan-keyakinan kita. Yang pertama pada tahun 1914-1918 terjadi peperangan untuk mengamankan dunia demi demokrasi dan pada tahun 1939-1945 peperangan untuk memperjuangkan demokrasi menghadapi totaliterisme nasional sosialis (naziisme), dan sekarang kita terlibat perang dingin demi demokrasi dan kebebasan menghadapi marxisme. Dan kita tetap tidak berkeberatan untuk melakukan kembali. Karena itu sangat penting untuk mengetahui apa yang kita yakini.
Dalam makalah ini mempunyai rumusan masalah bagaimana problematika ideologi-ideologi politik dan teori negara yang terjadi pada abad ini? Dalam hal ini kami menggunakan metode studi pustaka buku dan setelah itu juga mendiskusikan bersama mahasiswa semester atas.
A.Teori Negara
Termenologi teori negara antara filsafat politik dengan sistem ekonomi kiranya perlu untuk tidak dicampur-adukkan agar dapat mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan “bentuk-bentuk organisasi ekonomi manakah yang cocok dengan berbagai bentuk organisasi politik yang ada? Dan bentuk organisasi ekonomi yang manakah yang paling banyak menimbulkan kebebasan?” meskipun ekonomi dan politik itu tidak sama, namun kedua-duanya seiring berjalan. Seperti istilah “Demokrasi” sebagai filsafat politik tidak sama sepenuhnya dengan “kapitalisme” sebagai suatu sistem ekonomi, “Komunisme” sebagai suatu filsafat politik perlu dibedakan antara “komunisme” sebagai suatu sistem ekonomi, dan Fascisme harus dibedakan dengan sistem ekonomi yang disosiasikan dengannya, yang dinamakan “ekonomi korporasi . Setiap negara berhak menganut teori-teori tersebut sesuai dengan keyakinannya.
Setiap Negara berhak untuk meyakini apa yang akan menjadi teori untuk dirinya. Walupun mau tidak mau akan tetap dihadapkan dengan suatu pertentangan ideologi. Para filosof, banyak yang telah merumuskan teori-teori tentang kenegaraan, akan tetapi itu juga akan menimbulkan pertentangan.
Negara muncul teadge
Edit

Mengenai Saya
Edit

Tambah rbentuk dari salah satu akibat penaklukan kaum lemah oleh kaum kuat. Teori ini berbasis dalam dasar pikiran psikologis dimana sifat manusia itu agresip. Sifat ini membawa manusia meronta terus- menerus untuk meraih kekuasaan; dan dari sifat ini pula mendorong kaum kuat untuk menjajah kaum lemah.
Sifat dasar agresip inilah membawa naluri manusia bangkit dan membentuk institusi negara, oleh karena itu kekuatan kekuatan adalah dasarnya negara. Jean bodin, D. hume, Oppenheimer dan Jenks merupakan ahli Filsafat dimasa modern dimana mereka memegang dan menyokong teori ini.
Intisari dari teori ini adalah’’ perang untuk menjadi raja ‘’ ditahun 1080 Pope Gregory VII menulis: barangsiapa yang tidak mengetahui bahwa raja- raja atau pemimpin- pemimpin mereka yang membawa mereka dari permulaan, dimana para pemimpin tersebut buta dari mengenal tuhan, dan berpura- pura, buta yang disebabkan oleh ketamakan dan kesombongan yang tak tertahankan, bisa dianggap menjaga harga diri, kekerasan , kepercayaan yang jelek, pembunuhan , dan dekat dengan segala bentuk kejahatan, menjadi penghasut bersama para pemimpinnya menuju jalan iblis.
Di dalam teori kenegaraan istilah kemerdekaan adalah istilah yang hampir-hampir merupakan sinonim dari kebebasan dan gagasan terpokok dari dalam kebebasan dan kemerdekaan ialah tidak adanya paksaan: yang pertama, tidak adanya paksaan karena keniscayaannya mutlak. Yang kedua, tidak adanya paksaan karena rasa takut dan hukuman. Orang berada dalam keadaan bebas apabila ia melakukan perbuatan tidak di bawah paksaan, melainkan dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan dan kosekuensi-konsekuensinya.
Secara politik tidak mungkin bebas apabila kita tidak memiliki kemerdekaan memilih orang-orang yang akan memerintah kita, begitu pula kita tidak akan bebas apabila tidak ada jaminan bagi kita untuk memperoleh pengadilan yang jujur. Kebebasan kita bersifat terbatas sejauh kita tunduk kepada orang lain.
Beda halnya dengan kemerdekaan atau kebebasan, Sebagai istilah politik “kesamaan” mempunyai pengertian “nilai yang setara”. Artinya, semua individu mempunyai nilai yang setara di bidang politik. Di dalam teori negara, kesamaan mempunyai jenis-jenis yang terdapat dalam lingkungan kehidupan. Seperti misalnya, kesamaan di depan hukum, kesamaan dalam kesempatan di bidang ekonomi, kesamaan dalam memperoleh kemudahan-kemudahan pendidikan, kesamaan dalam status sosial, dan sebagainya.

B. Ideologi Negara
Sebuah ideologi adalah kumpulan kepercayaan dan ketidakpercayaan yang diekspresikan dalam kalimat-kalimat yang bernilai, kalimat-kalimat permohonan dan pernyataan eksplanatoris. Ideologi dibuat untuk memberikan basis permanen yang relative bagi suatu kelompok masyarakat untuk membenarkan kepercayaan pada norma moral dan sedikit bukti faktual serta rasionalisasi berbasis kesadaran dari yang bertalian dengan legitimasi implementasi dan preskripsi teknis yang dimaksudkan untuk menjamin tindakan yang ditampilkan demi perlindungan, reformasi, destruksi atau rekontruksi dari tatanan yang ada.
Dari definisi ini dapat diikuti bahwa politik dan ideologi terpisah. Seluruh tindakan politik pada akhirnya diorientasikan pada perlindungan, reformasi, destruksi atau rekontruksi tatanan sosial, dan karena itu seluruh tindakan politik perlu dituntun oleh sistem ideologi suatu kepercayaan.
Peperangan yang mulanya disebabkan tarjadi karena bidang ekonomi mulai nampak dikarenakan sengketa ideologi-ideologi. Fascisme acap kali ditolak, karena paham ini meniadakan kemerdekaan atau kebebasan, sedangkan para penganut fascisme mengatakan bahwa hanya di dalam sebuah Negara fascis anda dapat mempunyai kebebasan yang sejati. Padahal, setiap Negara berhak untuk menentukan kepercayaan ideologi apa yang akan dianut.
Demokrasi, komunisme, dan naziisme adalah tiga ideologi yang saling bertentangan pada abad ini yang dianut oleh Negara-negara tertentu. Misalnya demokrasi diasosiasikan dengan Amerika Serikat, naziisme dengan jerman, dan komunisme dengan Sovyet Rusia. Sejumlah besar sengketa yang timbul diantara para penganut tiga teori itu berpusat disekitar pengertain "kemerdekaan" dan “kesamaan”.
Komunisme adalah suatu paham yang mengingatkan kita pada almarhum Karl Marx. Salah satu filsuf yang menulis Manifesto Komunis yang isi terbesarnya adalah "sejarah segala masyarakat yang ada dewasa ini merupakan sejarah pertentangan kelas". Menurut Marx dan Engels, bila kita meneliti sejarah, selalu dijumpai adanya dua kelas yang besar, penindas dan yang ditindas, atau di dalam istilah yang lebih modern, para penghisap dan yang dihisap.
Penganut marxisme ini yakin bahwa kemerdekaan dan kesamaan tidak ada, dan tidak mungkin ada, bagi masa di dalam suatu masyarakat yang tersusun dari kelas-kelas, karena mereka selalu tertekan oleh kebutuhan ekonomi. Hanya sedikit orang yang dapat menikmati kemerdekaan. Di dalam kapitalisme, sesuai dengan hakikat sistem itu sendiri, tidak ada dan tidak mungkin ada kemerdekaan dan kesamaan, baik dibidang politik, di bidang sosia, maupun di bidang ekonomi. Di dalam suatu negara demokrasi ada pengakuan yang formal terhadap kesamaan dan terutama kemerdekaan. Tetapi hanya di dalam suatu masyarakat tanpa kelas akan terdapat kesamaan dan kemerdekaan yang bulat, karena di dalam masyarakat seperti itu seseorag tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhannya dan oleh factor-faktor ekonomi.
Penganut marxisme menambahkan, dalam mendefinisikan “kemerdekaan” dan “kesamaan” berdasarkan ekonomi dan bukan atas perbuatan-perbuatan. Ini tidak mengherankan jika kita mengingat teori mereka tentang hakekat manusia.
ideologi selanjutnya adalah Fascisme, yaitu paham yang memberikan kritik yang merusak terhap demokrasi dan kapitalisme, tetapi penyelesaian yang diajukan merupakan pengutukan yang terang-terangan serta penolakan tidak hanya terhadap gagasan-gagasan demokrasi, melainkan terhadap nilai-nilai demokrasi itu sendiri.
jika kaum komunis menerima banyak diantara nilai-nilai yang terdapat di dalam demokrasi. sebaliknya, penganut fascism menolak nilai-nilai demokrasi, akan tetapi ingin tetap mempertahankan suatu bentuk kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi. Khususnya mengenai pengertian kesamaan, fascism mempunyai pendirian yang berbeda dengan demokrasi dan komunisme.
Demokrasi dan komunisme bersepakat bahwa semua manusia adalah sama, begitu juga dengan metode-metode untuk melaksanakannya. Akan tetapi fascism mengatakan bahwa manusia tidak sama, tidak boleh diberi perlakuan yang sama dan harus dipaksa mengakui ketidaksamaan itu.
Penganut fascisme juga menolak terhadap kemerdekaan yang mempunyai semboyan “tunduk, bekerja, berjuang” dengan demikian tidak mungkin ada kebebasan, kecuali mengenai hal-hal yang tidak berarti. Orang harus tunduk atau jika tidakmau berarti menjadi musuh negara.
Kemudian yang terakhir adalah demokrasi yang begitu berbeda dengan komunisme atau fascism. Demokrasi menganut keyakinan bahwa individu merupakan sesuatu yang nyata dan yang paling penting, negara disusun oleh individu-individu. Paham ini mengatkan bahwa fungsi negara adalah mengabdi kepada warga negaranya. Sejauh ini komunisme bersamaan pandangan dengan demokrasi, meskipun komunisme memandang negara sebagai suatu alat kelas-kelas yang memerintah dan berhubung dengan itu harus digulingkan. Fascism menolak penafsiran ini dan mengatakan, negaralah yang merupakan kenyataan terpokok dan kewajiban seorang warga negara ialah mengabdi kepada negara.
Lahirnya sebuah peradaban baru tidak serta merta begitu saja terjadi, namun buah hasil dari proses pembentukan ataupun perkembangan ideologi lama yang telah mengalami proses yang sedemikian rupa. Begitupun yang terjadi di nusantara. Ideologi berazaskan pada keyakinan religi terutama islam telah mendahului jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.
Ideologi Islam mendominasi peradaban waktu itu, dengan adanya kerajaan-kerajaan Islam. Memasuki masa penjajahan, ideologi kolonialis dan imperialismelah yang berjaya. Masa kemerdekaan, muncullah ideologi Pancasila yang dilahirkan oleh kaum nasionalis. Di sisi lain, Pancasila di awal berdirinya juga masih harus bersaing ketat dengan paham
Sosialisme/Komunisme. Dalam perkembangannya hingga kini Pancasila masih menjadi pegangan kuat bagi Republik Indonesia yang serba dinamis dan berisi penuh dengan perbedaan.

KESIMPULAN
Dalam memandang teori kenegaraan, setiap orang akan mempunyai pandangan yang berbeda-beda sehingga tercipta suatu ideologi yang saling bertentangan. Akan tetapi dalam menghadapi perbedaan ini, kita harus sadar bahwa manusia dalam berpikir tidak mungkin sama semua.
Setiap negara berhak untuk menganut ideologi-ideologi politik yang mereka yakini selama tidak melanggar hukum dunia. Sehingga tidak ada lagi peperangan yang terjadi karena perbedaan ideologi yang menjadi problema sosial politik dunia pada abad ini.
Demokrasi menjadikan penganutnya berhasil dalam membangun negaranya seperti amerika serikat, Naziisme berhasil membangun negara seperti jerman, dan komunisme menjadikan negara maju seperti Sovyet Rusia. Hal ini merupakan perbedaan negara yang bisa menyesuaikan dengan ideologi rakyatnya.


DAFTAR PUSTAKA
John B. Thompson, Analisis Ideologi : Kritik Wacana Ideologi-Ideologi Dunia, Yogyakarta: IRCiSoD.1990.
Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya 1992.